Ruby on Your Knees

First time I meet You
I’ve got shine in your eyes
Never told the part of my blood
That I’m hit the wall with my mind
Oh yeah, with my mind
Oh yeah, with our mind

Jumping to the middle room
And I see You lying in bed
Record was spinning for two of us
We sleep together in the wind of hate
Oh yeah, in the wind of hate
Oh yeah, in the wind of hate

I call my mother
I call my father
Nobody knows I’m with her
Then I realize
See through the mirror
Oh I’m being alone, I’m being alone
I’m being alone
Oh yeah I’m being alone

Ruby on Your Knees

Advertisements

Bulir Lirih

Menggigil diremas jelaga merah
Terketuk buka pintu amarah
Hisapan rindu mendedas peluh
Tak ayal hanya tersentuh keluh

Kaki berangkat mengumbar nyali
Mata beringsut menderas hari
Berpijar surya kikiskan padam
Semoga terlihat asa terpendam

Langkah diri meredam perih
Angkat kepala menjauh lirih

Menanti bulan penuh berharap
Semoga saat bertemu bercumpu kalap
Menangkis segala hirup bulir
Seakan bagai insan yang baru terlahir

Langkah diri menghisap hati
Merekah erat terwujud mimpi

Makhluk Hijau itu Bernama MDAE

Saya putuskan untuk menulis tentang acara Jumat (29/6) kemarin, berhubung band kami main disana. Di suatu acara ulang tahun yang berhawa begitu dingin hingga menembus pori-pori sepatu hitam pinjaman dari adik saya. Sebuah acara yang saya bayangkan akan bergelimang cairan penebar hangat dan juga para tamunya terutama.
Pengabungan tiga orang gadis yang ulang tahun dan pacar Meki salah satunya sehingga kami diajak untuk main, yang menurut saya seperti sebuah reuni SMA. Saat ini saya tidak ingin membahas tentang The Juana maupun Untitled Joy karena terkesima oleh suatu band yang dahulu tidak saya perhatikan lebih seksama. Pertama saya bertemu anak-anak itu ketika pacar saya siaran dan mereka menjadi salah satu bintang tamunya dengan tersipu malu mungkin karena baru saja lulus SMA kalo tidak salah.
Tetapi waktu itu saya belum berkenalan lebih dalam, menarik ketika mendengar sound-sound mereka yang sangat noise dan penuh emosi ketika mendapatkan panggung datar tanpa sekat yang sama di Jalan Cendrawasih. Menarik lagi ketika lagu mereka yang berjudul “Tergilas Mati” diputar pada acara Outerbeat yang lagi-lagi kami bebarengan masuk saat itu, Outerbeat merupakan salah satu segmen program acara radio yang saat ini vakum. Setelah mendengarkan siaran tersebut saya pun mengulik dunia maya dan menemukan link donlotnya sebanyak 3 lagu live yang dikeluarkan oleh Patirasa Record kalo tidak salah lagi..hahaha…

Artworknya pun membuat saya memutarkan kepala dan disusun dengan warna tambahan coretan ala kadarnya. Monggo dicek sendiri:

“Live in Namexxx”
Langsung teringat dengan komik Dragon Ball jaman saya SD yang berakhir di volume 42. Planet hijau tempat asal Piccolo si makhluk asing yang akhirnya berteman dan seorang yang bersahaja lagi sabar…hahaha
Kenapa dinamakan Live in Namexxx? Menurut saya sih menggambarkan tentang keterasingan dengan segala suasananya yang gelap cenderung sepi tanpa koloni. Ini menurut saya lho… Menurut kalian bagaimana?

Tiga lagu yang menggangu kuping dengan suara mentah dan membiarkan agar orang tidak diam namun mengayung entah tangan kepala atau kaki. Pokoknya selama 10 menit itu tidak akan mendapatkan titik nyaman untuk tidur, namun bisa meraung emosi penuh peluh.

Semakin menarik ketika saya bisa melihat aksi panggung mereka secara khusyuk dengan permainan suara ruang yang datar dengan memacu emosi. Lagu favorit saya pada waktu mereka main masih pada “Tergilas Mati” karena saya tau lagunya yang teringat hanya itu. Suara yang mengingatkan saya akan Seek Six Sick tapi lebih memacu kepada Belajar Membunuh. Kenapa saya menyebut band yang terakhir? Karena ketika sang vokalis meluapkan emosinya dengan teriakan dan hantaman nada distorsi mengingatkan saya akan Rudy Wuryoko, vokalis keren yang aksi panggungnya juga sungguh mujarab!!

***

Saat saya akan menuju keluar vila, menyapalah seorang dari kerumunan. Ya dialah vokalis band tersebut yang bernama Yoga, bertubuh tinggi semampai dan badan kurusnya berbalut sweater warna hijau. Obrolan pun dimulai tentang SKoE, band proyekan yang saya bikin bersama Wisnu Auri.
Heran menjangkiti benak saya, kenapa dia bisa tau? Ternyata doi pernah melihat aksi panggung SKoE yang sangat jarang, saat kami main di acara pembukaan pamerannya Krisna Widiathama. Obrolan yang beragam hingga dia bertanya tentang aliran Untitled Joy, saya pun bingung menjawabnya. Ketika pertanyaan saya balik, dia pun mendapatkan kebingungan yang sama seperti saya..hahaha
Yah semuanya itu subyektif, tapi sedikit iseng lah memberi suatu nama. Please welcome noise post-punk pendiam yang kelam My Dear Are Enemy

nb: tak tunggu album fisik’e ya Yog? 😀

Noise & Nasi Goreng

Sabtu lalu lumayan mengesankan bagi saya, dimulai saat ke selatan mengembalikan cakram film di Universal Part II sembari menghabiskan sore dengan bercengkrama bersama Dony Iswara. Dari membahas sinematografi sinetron sampai Stephen Chow salah satu aktor favorit saya. Kesimpulan perbincangan kami menurut saya ialah bahwa Indonesia kurang menyuguhkan tayangan yang inspiratif dengan menjual mimpi tanpa ada dalam realita. Hampir pukul lima sore pada jam tangan dan saya memutuskan balik ke utara dan tak lupa mampir untuk mengembalikan film di Universal pusat. Misi kali ini ialah mengembalikan agar dendanya tidak kurang ajar, sebelum ini sudah habis 60ribu untuk membayar denda saja.hmm

Bertemulah dengan mas Kentanx dengan memberi denda sama dengan Dony yaitu 5ribu, lumayan saya bisa irit 2ribu untuk beli pulsa. Saat itu mas Kentanx menawarkan untuk meminjam lagi film dan saya menolak secara halus sehalus pipi dikarenakan beberapa hari yang lalu kocek saya “dedel-duel” dikarenakan rekaman Untitled Joy yang overtime dan bersisa seribu pada dompet, bayangkanlah seperti pada film Akira Kurosawa “One Wonderful Sunday.” Mungkin jika kisah saya waktu itu difilmkan akan melebihi Children of Heaven, semoga Majid Majidi menemui saya.
Ponsel kok tiada berdering, akhirnya saya memutuskan lama di Universal sembari ngobrol dan mendapati memori masa kecil yang ternyata lagu dari UB40 dikarenakan diputar mas Kentanx pada player DVD. Hal yang selalu saya ingat saat mendengarkan musik-musik semacam itu yang berarti tahun 90an awal  mendengarkan Geronimo saat hujan dan duduk berisik berkendara pada mobil pickup putih untuk menuju menonton grasstrack di Maguwoharjo yang sekarang menjadi Casa Grande, memori semacam itu selalu timbul.
Pada akhirnya ponsel saya pun berdering, dik Meki bertanya dimana saya? Jawabnya pun saya sedang menuju rumah. Hari itu beberapa jam lagi saya dan teman-teman akan mengisi acara pada Minor Listen #7.

Sampai di depan rumah dan Meki sudah menunggu didalam mobil bersama bu dokter, sebutan yang saya sematkan untuk pacarnya dikarenakan sekolah di kedokteran gigi. Kami bertiga pun menuju ke atas dan saya pun beranjak mandi.
Laptop saya hidupkan sambil menunggu teman-teman yang lain dan ternyata Bagus ulang tahun, dapat dilihat pada facebook yang lumayan beberapa hari tidak saya cek karena masalah overtime itu tadi.
Adhi pun kemudian datang tinggal menunggu dua orang lagi yaitu Bagus dan Jangkrik yang ternyata langsungan berangkat ke lokasi atau bahasa kerennya venue.
Saya berangkat berboncengan dengan Adhi memacu motor tril, sedang Meki dan bu dokter intim dengan mobilnya. Sampai di Lumbung Padi suasana cukup rame, iya rame nonton bola dibanding band-bandan dikarenakan pada saat itu sedang ada siaran langsung Liverpool vs Manchester United. Naiklah saya keatas bertemu Riyo Angina orang yang punya gawe pada acara ini dan tiba-tiba ditodong untuk jadi MC, wah ya langsung saya iyakan dulu karena refleks tapi sesaat sebelum acara dimulai akan kelabakan. Untungnya ada Isaac dari The Juana yang akhirnya menjadi partner saya ngemsi dengan model yang sama yaitu asal todong.
Acara belum dimulai karena sepakbola belum setengah babak, Jangkrik dan Bagus pun muncul setelah tiada kabar. Oh ya saya disitu diberi undangan dari Putro dan Jeje untuk menghadiri pentas dan pameran pra-tour band mereka The Frankenstone yang akan ke negeri seberang, Malaysia dan Singapura.

Akhirnya dimulailah acara dengan hompimpa diwakili personel band masing-masing dan ternyata Untitled Joy main pertama, mungkin hoki saya saat hompimpa kurang namun ternyata asik juga main pertama. Dibuka dengan tembang “Roda-Roda Gila” yang telah ditake ulang, ini yang ketiga kalinya dan lumayan beda. Nafas pun terengah-engah karena tempo lumayan cepat. Mungkin juga pada saat itu kami tidak mendapat pengaruh alkohol sama sekali, lumayanlah tidak bingung. Berlanjut ke “Ruby On Your Knees” yang sedikit pelan dan lirik yang masih saya awur karena belum jadi baku yang seru.
Haus sangat meradang saat “I’m Gonna Wild” dimainkan, minus Dody terakhir di Lumbung Padi masih dengan dia. “Api Neraka” merupakan jagoan dan saya sempat nyeletuk band kami akan membawakan sepuluh lagu, kebanyakan pandangan penonton terbagi antara panggung samar dan layar menyuguhkan sepakbola. Lagu terakhir yang saya pribadi selalu tunggu yaitu “Individu Urban” dengan permainan yang lebih variatif, saat masuk ke melodi Meki selalu memainkan efeknya dan menghasilkan suara noise, hal yang saya herankan ialah Adhi yang sepanjang lagu ini hanya bermain feedback dan menggesek-gesekkan gitarnya pada besi didekat panggung, padahal pada gigs sebelumnya gitar legendarisnya lumayan rusak karena digesek-gesekkan pada monitor. Lagu lumayan molor cukup lama dikarenakan pedal drum lepas, Bagus hanya bermain seperti Bim-Bim kala itu sembari membetulkan dengan dibantu kak Anom. Menurut saya lumayan lama lagu Individu Urban ini dimainkan sekiranya 7 menit jika tidak salah sampai Meki pun menyerahkan gitarnya pada saya saat main dan dia hanya memainkan efek. Bahagialah saya hari itu dengan sound yang noise dan lama.

Berlanjutlah ngemsi kembali bersama Isaac, menurut saya lumayan aneh ngemsi sekaligus maen mengisi acara lumayan kaku karena harus balik lagi bercuap-cuap. Band kedua ialah Spank Thru, yang saya ingat band ini beraroma melodik dan membawakan tembang dari The Clash “Brand New Cadillac” saya pun ikut bernyanyi saat lagu tersebut dimainkan. Lanjut pada Kaveh Kanes dengan sound-sound ala Inggrisan dan muka timur tengah, lumayan manis musik mereka sedikir berbau New Wave era The Cure meurut saya. Kemudian band keempat ialah Savior, kata sahabat saya yang duduk bersebelahan saat SMA selama dua tahun band ini beraliran Pop Rock. Terakhir ialah Avngrs, wah penampilannya menurut saya sangat membakar suasana dan membuat penonton yang tersisa untuk berheadbanger, saya menyebutnya Rock Gudang Garam yang mungkin akan kerja dengan Log Zhelebour pada masa dulu, perbincangan saya dengan Jangkrik ialah menitikberatkan bahwa serasa di Kansas saat mendengarkan permainan mereka.
Acara pun usai dan MC mendapatkan bayaran yang lumayan yaitu nasi goreng cumi plus es teh manis, yang akhirnya dinikmati bersama dengan awak Untitled Joy yang lain menghasilkan kenyang yang kurang..hahaha
Cerita ini belum selesai saat kami menuju ke Circle K Terban untuk merayakan ulang tahun Bagus. 🙂

Saya bersama Isaac setelah ngemsi dan mendapatkan ganjaran nasi goreng

Esoknya Minggu malam kami berlima berkumpul di depan halaman Radio Swaragama karena akan diadakan interview sehubungan dengan acara kemarin, dari lima band yang main kemarin hanya datang dua, band kami dan Savior. Masuklah kami ke studio untuk wawancara dan memainkan satu lagu yaitu Api Neraka versi akustik dengan Adhi pada gitar, Bagus backing vokal, dan Jangkrik dan Meki sebagai pengembira tepuk tangan..hahaha!! Selamat malam.

Pertama Setelah Beda Kota

Sabtu, 26 November 2011

Hari yang sangat biasa dan saya sungguh jengah dengan kamar saya. Kurang keluar untuk mencari angin mungkin atau sedang merindu teman-teman. Sore itu saya sudah mandi dan entah mengapa ingin pergi bersama orang-orang di rumah untuk sekedar makan bakso di terminal. Setengah delapan malam persiapan semakin matang tetapi entah mengapa Ibu mendapatkan pelanggan di salon, yah untuk mengkriting rambut butuh waktu lama dan batal!
Vespa telah saya hidupkan bergegas ke kota saja, sudah lama juga tidak bertemu teman-teman. Terakhir jika tidak salah adalah pada saat main di Gero Cafe 2 mingguan lalu tetapi Maiky minggu lalu sudah bertemu. Sembari mencari-cari jika ada warung yang cocok untuk dijamah dan dicicipi masakannya, hingga jalan Sudirman pun tiada yang membekas dan mata pun tertuju pada bangunan lama toko roti Holland. Membaca saya di koran beberapa hari ini, toko itu jika tidak salah kontraknya telah habis dan tidak diperbolehkan diperpanjang oleh pemilik tanah entah karena masalah apa itu saya kurang tau. Tapi jika toko itu jadi tutup setidaknya saya memiliki foto dengan latar belakang toko tersebut untuk terakhir kalinya.
Sampai juga di Kota Baru dan memasuki gerbang kompleks rumah Bagus, iseng-iseng berhadiah siapa tau dia di rumah. Karena biasanya malam minggu dia  kencan dengan kekasihnya. Ternyata dia di rumah dan sedang tidur, kata adiknya dia sudah tidur dari tadi siang tapi entahlah. Dengan badan yang lemas dan berjalan gontai dia akhirnya bangkit dari pembaringannya. Lumayan lama kami berdiam diri, karena menurut saya orang bangun tidur masih susah untuk diajak ngobrol.
Sekarang saya sibuk dengan ponsel Dimas yang merekam kami maen kemarin di radio, dia adalah adik Bagus. Satu jam kurang saya sempatkan untuk mendengarkan rekaman tersebut sembari bertukar-tukar tangan pada ponsel, karena sering ada sms entah dari siapa saja. Bagus pun sudah usai mandi saat saya pada menit-menit akhir rekaman tersebut dan hasil dari kami main tersebut kacau tapi kami lumayan puas. Saya mengajak Bagus ke tempat Adhi, dengan keputusan yang akhirnya bersepakat setuju kami pun berangkat sembari ingin melihat orang-orang pada “mubeng beteng” karena hari tersebut adalah malam 1 suro.

Sampailah di tempat Adhi, dan warung tempat dia bekerja sudah tutup. Sembari memberesi warung dan berleha-leha, saat itu alun-alun utara lumayan ramai. Singgahlah saya dan Bagus duduk dibawah pohon beringin tunggal dengan ditemani para local youth yang juga kami kenal. Kami berdua cuci mata dengan melihat para konsumen di warung bakmi yang sangat legendaris di alun-alun utara, tapi toh sama saja karena mata saya kelihatannya minusnya tambah jadi hanya bisa melihat lekuk tubuh tanpa begitu jelas, hanya blur dan membuat saya pusing.hahaha
Setelah lumayan kami dijamu oleh keramahan local youth dengan ciu yang sudah lama tidak kami minum, Adhi akhirnya muncul dengan segar karena habis mandi. Kami bertiga bercakap-cakap tentang apapun itu, hingga para local youth bertumbangan untuk pulang. Ditengah percakapan Bagus mendapatkan pesan singkat dari teman lama “suronan do nengndi?” Berlanjutlah omongan kami ketiga selang beberapa menit ada panggilan dari ponsel Bagus, tiba-tiba si penelpon itu ingin berbicara dengan saya?! Yah itu Dody yang entah mengapa sudah berada di Yogya dan berada di angkringan dekat rumah Bagus, telpon kemudian saya berikan kepada Adhi dan kami bertiga memutuskan untuk berlanjut kesana…

Dengan kendaraan biasa dan gaya yang masih seperti biasa, itulah Dody dan saya memberi salam kepadanya berlanjut teman-teman yang lain. Pertanyaan yang biasa terlontar untuk teman yang telah kerja di Ibukota dan silih berganti bertiganya, ternyata dia pulang untuk mengurus KTP elektronik. Lanjut selang berapa lama ponsel Dimas pun berguna lagi, entah mengapa dia juga berada di angkringan. Memulailah rekaman radio tersebut, dan di sela-sela lagu ada canda. Saya sering melihat dan mendengarkan Dody masih menyanyikan beberapa bait lagu kami, dibagiannya terlebih. Dan saya meridukannya kembali bersama-sama lagi, hari itu hanya kurang Maiky yang entah tak tau rimbanya.
Dikarenakan waktu sudah hampir pukul tiga dan Dody pun harus naik kereta untuk balik ke Jakarta pukul delapannya, kami pun pindah tempat ke toko roti yang saya lewati pada saat berangkat tadi dan untuk mendokumentasikan kedalam pikirin kami. Barangkali jika toko itu jadi benar-benar tutup. Biar perpisahannya lebih kentara dan sedikit perayaan traktiran karena dia sudah bergaji, sangat disesalkan ialah saya lupa membawa kamera.
Berlima dengan Dimas kami memesan menu yang sama kecuali saya dengan burger tanpa timun, karena saya membencinya. Menyantap pagi lah kami sembari melanjutkan obrolan di angkringan tadi. Saya tanpa sengaja melihat dalam burger Adhi dan terlihat kuning berwarna keju, setelah saya sadari tempat saya tidak ada kejunya. Begitupun tempat teman-teman lainnya setelah setengah jalan makan, dan yang saya lihat ditempat Adhi tadi ialah warna dalaman roti. Berembuglah kami dan saya memutuskan komplain dengan pesanan yang seharusnya disertakan keju. Alhasil keju dimakan pada saat pertengahan, kecuali Adhi yang memakannya untuk pencuci mulut setelah menu utama. Selepasnya kami pun lanjut berfoto-foto lewat ponsel milik Dimas dan pulang.
Lumayan menyenangkan bertemu teman sepermainan yang telah mencar dan beda kota, lebih mengasyikan bercampur haru  bahwa proses pertemuannya sangat spontan namun singkat.

4 Tahun Terangkum Kungkum

Minggu kemarin saya ke rumah Maiky, sekitar pukul 9 malam dengan mengendarai vespa oren yang sudah lama tidak menyapu aspal. Seperti hari minggu malam biasanya, kami biasa berkumpul untuk membuat lagu atau hanya sekedar bercakap membahas rencana apalagi yang akan kita lakukan. Pintu dibuka dengan terpaan rintik hujan dari luar, saya kira anak-anak yang lain sudah sampai disana. Ternyata baru saya saja yang dengan membawa dua bungkusan jahe hangat dari angkringan dekat kampus veteran.
Menu jahe hangat dan rokok dua bungkus kami siapkan sembari menunggu Bagus dan Adhi. Saya menghidupkan gitar elektrik Maiky dan lanjut memainkannya dengan asal-asalan, biasanya juga begitu lalu mendapatkan lagu baru. Hari ini ingin merampungkan 2 lagu baru yang dibuat oleh Maiky dengan mencapur lirik dari saya. Setelah beberapa lama pun tidak ada hasil yang didapatkan, hanya pengulangan-pengulangan kembali.
Akhirnya saya mengeluarkan laptop dan membuka lirik lama yang telah lama terbengkalai, Maiky saya suruh mencari awalan yang baku bagi lagu tersebut. Biasanya dia memainkan nada apa pun itu, pasti suatu saat terhenti ketika saya mendapatkan sesuatu yang “menganggu” telinga. Yah, dapatlah awalan tiga kunci tetapi kemudian saya reduksi kedalam dua kunci saja. Setelah bertanya nada tinggi yang cocok untuk lagu tersebut, Maiky mulai merekam dengan menggunakan laptop pribadinya. Saya disini memainkan gitar elektrik, Maiky dengan gitar akustiknya mendekati alat perekam. Tiga atau empat kali mengalami pengulangan dalam merekam akhirnya mendapat gambaran yang mulai baku terhadap lagu tersebut. Saya menceritakan kepadanya bahwa lirik “Lari Menuju Konstan ” ini bercerita tentang kami yang dahulu minus Maiky akan berbuat apa setelah lulus SMA dan berpisah tidak bertemu setiap hari lagi. Nada kelam dan suram menjadi bumbu dalam lagu sendu itu, dan  kemudian kami mendengarkan ulangannya sembari mencari patokan akan seperti apa vokal yang masuk terhadap lagu tersebut.

Proses lirik ini tercipta cepat pada waktu itu, hanya satu batang rokok yang menemani saya pada saat-saat kalut perpisahan dengan teman-teman remaja saya. Tapi hingga empat tahun lebih lirik ini tidak mendapatkan lagu yang cocok dan nyaris terlupakan. Baru setelah saya bertemu dengan Maiky prosesnya juga sangatlah cepat!
Bagus ternyata pada saat itu berhalangan datang begitu pun juga dengan Adhi, untung Bagus online jadi setelah saya sampai rumah sekitar pukul 3 pagi saya lalu mengirimkan lagu tersebut lengkap dengan 2 lagu baru Maiky yang masih mengalun suara gitarnya saja. Siangnya setelah bangun tidur saya pun bertemu Adhi juga di dunia maya, hal yang sama juga saya lakukan sama kepadanya tidak lupa juga menyuruh mereka untuk menambahkan hal-hal lain yang mungkin ajaib.

Siang ini saya di rumah saja, setelah paginya belajar memasak sarden dan ingin mengimplementasikan di rumah pacar. Tetapi gagal dikarenakan hujan, alhasil meringkuk di kamar saja sembari bercengkrama dengan siapa saja di dunia maya. Entah mengapa hasrat iseng saya muncul,  mengutak-atik Adobe Audition yang telah lama berada di laptop tanpa saya maksimalkan. Ternyata take vokal pun jadi tidak perlu menggunakan microphone, dan karena Lari Menuju Konstan masih hangat akhirnya saya pilih. Beberapa kali saya memasukan suara, hingga tenggorokan saya lumayan kering akhirnya jadi juga dengan sangat mentah dan kasar. Teringatlah entah mengapa saya dengan Dody yang sedang bekerja di Jakarta sana. Pesan singkat pun muncul ke ponselnya untuk menanyakan alamat email, saya kirim dan suruh perdengarkan lengkap dengan vokal. Versi dengan vokal ini Dody yang pertama mendengarkan selain saya tentunya, dia memberikan balasan “tangga dramatik lagunya terasa. Terus berlari sampai akhir.”  Yang pasti kita semua dituntut untuk berlari, berlari sampai akhir hingga mendapatkan apa yang kita inginkan dan meraih apa yang kita dambakan kemudian mempertahankannya.

Transformasi Empat Benak

Minggu malam, 23 Oktober 2011 saya berkunjung kerumah Maiky. Setelah balasan pesan pada siang darinya, yang saya lampirkan tiga kali dalam dua hari. Terpaan air hujan kecil menabrak muka saya saat dalam perjalanan.
Sesampainya saya disana langsunglah saya meminta Maiky untuk menghidupkan televisi. Dia sangat jarang melihat televisi, namun itu soal lain karena Manchester City main melawan tim sekota yang memakai kostum merah kala itu. Sembari saya mengabari kawan-kawan lain untuk membawa mantel, karena daerah utara kelihatannya akan hujan.

Tibalah Adhi dan Bagus yang datang berbarengan. Rencana ingin membuat guide untuk take tapi yah kalah karena derby Manchester sedang berjalan. Kami berempat sama-sama menjagokan Manchester City, dan puas terutama saya karena ini adalah sejarah. Manchester City menang dengan skor telak 6-1.
Selesai menonton pertandingan tersebut, beranjaklah kami ke kamar Maiky. Niat hati ingin mendalami metronome malah jadi sesi foto-foto dan setelahnya lapar! Bagus dan saya memasak indomie, sedangkan Adhi dan Maiky asyik bergumul dengan gitar di kamar. Dikarenakan tidak memasak telur untuk pelengkap, Adhi pun dengan cekatan merebus 4 telur dengan menggunakan tisu. Entah cara darimana dan tidak ada satupun yang matang.

Selesai makan pun kami bersiap-siap untuk membuat guide dan menelaah metronome secara mendalam, ada sepuluh lagu yang telah diberi ketukan dan dua yang masih mengambang. Ada beberapa lagu lama yang dahulu tidak pernah atau hampir terjamah, semacam memenuhi kuota.
Pukul 02.30 Bagus dan Adhi pulang terlebih dahulu, hanya menyisakan saya dan Maiky di kamar. Kami pun membicarakan mengenai biaya yang tak kunjung memenuhi standar pada kantong kami, semoga pertengahan November sudah ada barang dua lagu untuk diselesaikan terlebih dahulu.

Usaha kami sekarang harus ada hasilnya, tanpa terasa sudah hampir enam tahun kami bersama. Rencana sudah dicerna seluruhnya, namun ada salah satu yang mengundurkan diri dengan tidak memberikan kabar sebelumnya. Seketika itu juga kami mendapatkan keterpurukan yang lebih dalam dibandingkan dua tahun yang lalu.
Kami bisa melewatinya, saya juga tidak henti memberikan semangat kepada yang lain demikian pula sebaliknya. Kami berempat dengan benak yang berbeda, namun dalam suatu kuartal yang tidak terkira dapat menjadi satu dan utuh!

Dari kiri: Adhi, Maiky, Nico (saya), Bagus