Anjangsana!

Revisi skripsi sudah saya kerjakan, nge-print berpuluh – puluh lembar lagi, membuang beberapa kertas lagi. Lalu lanjut mengumpulkan tumpukan kertas tersebut di loker dosen pembimbing saya, niat hati ingin sekalian bertemu tapi apa daya bersua pun tidak. Jam tiga sore sudah menjelang dan saya pun meringkuk di depan colokan listrik lobi kampus, masalah jamak jika punya ponsel pintar dengan keterbatasan pada baterai. Datang Dhila pacar sahabat saya yang juga baru saja mengumpulkan revisian dan ngobrol seputaran skripsi dan yudisium. Tiba – tiba ada nada dering berbunyi dari laci meja, alarm dari ponsel yang sejak tadi tiba di lobi terlihat tergeletak begitu saja namun tidak saya hiraukan. Maklum saya kira ponsel dummy, yang ternyata bukan. Akhirnya saya ambil dan mematikan alarmnya, dan melihat sekitar hanya tinggal saya dan Dhila yang sudah mau berpamitan untuk urusan pekerjaan yang ia tinggal. Sedikit bingung mendera, akhirnya saya kirim pesan pada daftar pertama sms terakhir di ponsel putih yang tertinggal tersebut. Lanjut ke depan ruang dosen lagi yang terdapat beberapa orang sedang antri menunggu dosen, saya tanya satu – persatu tidak ada yang merasa kehilangan ponsel. Beruntung di situ ada Haryo teman saya yang sedang bertengger di depan pintu ruang dosen. Saya mengatakan kepadanya bahwa barusan tadi menemukan ponsel putih. Ia pun mengecek foto – foto di dalamnya ponsel tersebut yang dari tadi tidak berani saya buka file-nya. Beranjaklah saya sejenak masuk ke ruang dosen memeriksa siapa tau dosen yang saya tunggu sudah datang, ternyata belum. Saat saya keluar Haryo sudah lenyap, orang – orang yang tadi ngantri pun tidak ada yang tau. Lumayan membuat saya panik dan mengelilingi seperempat bangunan kampus untuk mencarinya. Tidak ada!

Akhirnya sedikit menuruti insting saya menuju ke kantin Panorama di samping bangunan kampus. Ya karena kegiatan kampus sudah libur, pastilah ada anak –  anak di sana untuk sekedar ngobrol sembari minum kopi dan mengepulkan kretek. Ternyata dugaan saya benar! Muka –  muka yang tidak asing muncul juga, sedang asik di sana sekumpulan pemuda termasuk Haryo. Saya pun menemui dia, dan mendapatkan jawaban bahwa ia tau siapa pemilik ponsel putih tersebut. Sedikit menyempatkan ngobrol ngalor – ngidul dengan para teman, saya lanjut beranjak untuk menemui seseorang yang beberapa menit lalu saya kirimi pesan.

Menujulah saya ke dekat pusat kota, di sebuah kampung yang pada tahun ’80-an terkenal dengan daerah hitam. Tapi itu dulu, sekarang teramat nyaman dengan jalan masuk kampungnya yang meliuk – liuk.

Beberapa hari yang lalu saya sudah janji dengan Pak Koes, pedagang yang saya kenal di pasar sore. Kadang ia membawa kaset yang ajaib! Nah, tujuan saya untuk berburu kaset kali ini. Sampailah saya di rumahnya yang bercat putih bersih, semi bangunan Belanda jika dilihat dari pintu dan jendelanya yang berbahan jati. Dia menyalami saya dengan erat dan berterimakasih atas anjangsananya. Saya pun dipersilahkan duduk dengan nyaman, ia lalu mengeluarkan beberapa kaset. Namun di meja sudah ada kaset Metallica … And Justice for All, saya pun memilih satu – persatu beberapa kaset yang ia keluarkan. Ternyata pesanan saya belum ia dapatkan, karena negosiasi dengan kolektor pemilik kaset masih alot. Oh ya, perkenalan saya dengan Pak Koes sebenarnya sangat tidak sengaja, pada waktu itu saya sedang berburu dan di lapaknya ada empat kaset. Ia pun lantas bertanya “Mas, cari kaset pita po?”, nah saya yang sedang milih – milih kaset yang salah satunya The Who pun lalu menoleh dan langsung menjawab “nggih Dhe!” dengan nada semangat. Tiba – tiba ia mengeluarkan tas plastik merah dan mengeluarkan beberapa kaset dengan kondisi sangat mulus. Dia pun menjelaskan bahwa ini pesanan orang tapi tidak diambil, harga satuannya pun lima ribu rupiah. Saya pun memilih satu kaset Motorhead live at Brixton lisensi Metalizer, sialnya pas mau saya coba pita kaset itu putus terbakar. Kecewa pun mendera dan kaset itu tidak saya ambil, lalu saya menginfokan ke pedagang kaset langganan saya, yang dengan sigap ia ambil semua koleksi Pak Koes untuk direparasi untuk lanjut dijual lagi. Kaset Motorhead itu akhirnya dibeli teman saya dengan harga yang berubah tinggi dengan drastis.

Nah dikarenakan tau saya kecewa Pak Koes memberi tau bahwa di rumah masih punya beberapa koleksi. Namun ya itu tadi, ternyata koleksi kaset – kaset ajaib yang ia dapatkan kemarin sisanya masih belum deal. Alhasil saya pun memilih- milih kaset yang tersisa di rumahnya. Dua jam saya mencoba dan memilih kaset dengan walkman dan akhirnya tiga kaset saya ambil. Kebanyakan kasetnya yang ia keluarkan masih bagus, namun kadang isinya beda atau sudah terekam siaran radio. Hidangan nikmat kopi instan dengan nyamikan roti coklat keju pun menemani saya dalam memilih – milih koleksinya. Kemudian kami bercerita banyak hal, dari mulai kisah kampungnya yang sekarang hijau nyaman tentram, anaknya yang telah sukses bekerja di Bandung, tentang ia berdagang dahulu di berbagai pasar Klithikan (dahulu sebutan bekennya “Pasar Maling”, atau disingkat “Sarling” namun sekarang orang menyebutnya dengan Kithikan. Ini merujuk saat pedagang barang loak belum direlokasi dan menempati Jl. Mangkubumi) dan banyak saling silang tentang kisah kami berdua.

Processed with VSCOcam with t1 preset

Pak Koes sedang menyervis saklar listrik

Petang pun menjelang, saya pun pamit undur diri. Pak Koes pun juga akan berangkat jualan di pasar sore, namun sebelum saya pamit ia pun menawarkan kaset lagi untuk saya bawa pulang. “Dah dik mau mbawa kaset apa?”, saya pun mengambil tiga kaset: Duran – Duran, Ost. Pretty Woman, dan Frank Sinatra yang harus sedikit diservis. Saya pun bertanya berapa harga untuk keenam kaset tersebut, ia pun hanya memberi harga lima belas ribu. Berarti ia hanya memberi harga kaset pilihan pertama saya, sisanya sebagai bonus. Saya pun sangat berterimakasih dengan keramah – tamahan, suguhan yang nikmat, dan percakapan yang hangat. Ia pun mengulurkan tangan kembali, jabat tangannya masih sama, erat dan hangat. Terimakasih Pak Koes!

Processed with VSCOcam

Kaset yang saya ambil

nb: Terkadang hasil berburu koleksian tidak seperti yang saya harapkan, semisal harus mendapatkan kaset yang langka, lisensi lokal atau impor, atau bahkan rilisan yang memiliki harga mahal di pasaran. Celah – celah dari semua itu yang membuat saya akhirnya mendengarkan berbagai rilisan yang saya tidak tau, atau yang tadinya tidak ingin saya ketahui. Tapi yang terpenting seperti kata Pak Koes tadi “Anjangsana”  serta mendapatkan kenalan, kehangatan, keramah – tamahan, dan berbagai kisah lainnya.

Advertisements

Memori Remaja, Memori SMA

Bau hujan telah menggelayuti membasahi tanah-tanah merekah, terlihat hanya sebentar dan mendendam peluh lagi. Terantuk pada meja dan kursi teringat kisah beberapa hari lalu. Tepatnya Rabu saat saya disuruh pacar untuk ikutan kuis di tempatnya kerja. Hadiah pun terdapat saat malam menuju ke rumah Seno yang sudah tersungkur bahagia karena pendadarannya. Saya pun membawa anggur merah dan bir dingin yang saya beli di tempat berbeda karena selisih harga. Memacu dan sampai rumah sahabat saya ini sekitar pukul setengah sebelas malam. Kami pun bertukar kisah diiringi dengan turunnya alkohol sesi rendah itu ke kerongkongan yang kerontang. Tentang masa depan, keluarga, kuliah, pekerjaan, dan hawa. Ini perjamuan pertama setelah dua bulan kami berpisah, saya bergumul belajar dan mengasah mental di Ibukota dan ia menderas ilmunya dalam studio.
Perbincangan yang berbumbu tentang kenangan awal SMA kami saat mendengarkan dan berhuyung membeli kaset kualitas dua di Kotamas atau pun Ngejaman. Saya menyuruh dia untuk ikut kuis juga agar bisa menonton bersama dengan gratis, band yang lumayan mewarnai umur belasan tahun saya, band dari belahan dunia lain. Sebenarnya saya kurang begitu mengetahui band ini lebih dalam, namun demi memori belasan yang sangat bergejolak, saya pun dengan antusias mencari dua tiket untuk berangkat dengannya.

Kamis malam dengan udara yang meredam hawa panas saya pun menuju Geronimo untuk mendapatkan tiket kedua sembari melihat wawancara sosok yang masuk dalam telinga untuk satu lagunya yang tergiang-ngiang dan terlontar keluar mulut saat perjalanan. Sesampai di stasiun radio, Seno menghubungi lewat pesan singkat dan saya menjemputnya di rumah Cossa. Bolak-balik selama beberapa kali hingga malas melewati koboi kampung yang melegenda dengan kumpulan motornya barangkali santun. Hingga band itu datang dan Seno sudah berada di rumah Cossa lagi akan berperan menjadi pengujinya dengan Christo untuk bekal pendadaran siang esoknya.
Saya pun bersama pacar melihat wawancara, entah mengapa saya sudah berpacu lagi mencari vodka dengan Seno untuk manager band itu yang sudah mabuk akan alkohol berparuh tua.
Saat di rumah Seno malam larut yang dihabiskan dengan alkohol kemarin saya berpesan agar dibawakan kaset band tersebut, kaset terbengkalai saya kenang-kenangan Kotamas yang sangat melegenda. Tapi memang yang dibawakan Seno hanya kaset tanpa covernya, mungkin saya salah berpesan dan batal meminta tanda tangan dari satu personel asli, padahal inti dari ini ialah cover tersebut agar tersemat tinta.

Setelah saya berfoto dan pacar telah pulang, lanjut ke rumah Cossa untuk melihat pre-pendadaran yang santai diselingi gelak tawa berujung serius dengan pertanyaan dari Seno dan Christo, teman yang baru saya kenal saat itu juga saat senyum ramah selalu menghiasi wajahnya.
Banyak pertanyaan terlontar dari keduanya, saya pun sedikit bertanya tentang proses ticketing dalam konsep bangunan mengenai gedung pameran tersebut. Bercampur antara bercanda dan serius, saat selesai kami pun beranjak untuk pulang, Tiket juga sudah terdapat tinggal esok diambil saat jam kerja.

Siangnya saya ke kampus Teknik, hanya sekali menyebrang dari kampus saya. Pendadaran Cossa pun telah usai, dan kami berempat pun berbincang sembari merokok di depan auditorium.
Kami pun masuk ke auditorium melihat karya maket yang telah jadi, bertemu dengan kawan-kawan lain dan menunggu pengumuman nilai. Seno pun pulang untuk mengambil jas bersama Aming, menyebranglah saya ke kampus untuk ke mencoba toilet duduk yang berakhir kebingungan.
Saat melintas di kantin saya pun melihat segerombolan teman dan sedikit menghabiskan waktu dengan bermain kartu hingga menyebrang lagi dan melihat para mahasiswa yang telah lega berfoto-foto ria dengan hasil nilainya dalam pengumuman di dalam ruang dengan hasil lulus semua dari nilai A dan B tanpa nilai lain. Selamat ya teman-teman! ini pun berimbas pada perayaan alkohol seperti saat saya bertandang di rumah Seno namun dengan wadah plastik di tepi tribun lapangan voli yang bertanah. Entah berapa plastik cairan merah itu telah terhabiskan, saat saya dapat jatah dua tiket lagi dan mengambilnya dengan terjangan rintik hujan kecil bersama Roby ke Geronimo. Dua tiket itu untuk Roby dan Aming, rencana kami berempat yang berangkat dengan bantuan kertas ajaib menjadi penghantar pengganti tiket.
Minuman terakhir pun telah habis dan kami pun menyebar untuk bertemu nanti di sentra daerah hiburan Jalan Magelang. Sisa dari kami berempat entah setelah itu ke mana, namun yang pasti punya rencana sendiri.

Saya pun ke rumah mbah Hadi di Nologaten agar berangkat bersama dengan Seno dari sana. Seno diberi hadiah dari neneknya tersebut, saya pun asyik menyantap masakan yang disajikan mbah Hadi dengan kadar kesadaran setengah. Setelah itu berlanjut perjamuan di parkiran Amplaz dengan perut yang sudah tidak kuat dan candaan khas mas Yuli, paman dari teman saya ini yang bercerita dari hati kepada ponakannya.
Kami pun langsung lanjut ke acara dengan menyisakan setengah botol yang sudah tidak bersahabat. Di tengah jalan lebatnya tetesan air deras dari langit tak mengendurkan semangat saya untuk memacu mesin motor walau sedikit hilang nyaman karena saat sampai di tempat hujan berhenti dan air meresapi sandang saya dari atas hingga bawah tampak depan dan meleburkan rasa dingin yang semakin dalam.
Banyak ketemu teman lama dari yang masih sediakala hingga yang telah berubah frontal. Kami pun masuk dengan rombongan teman SMA hingga di dalam bertemu teman nongkrong saat di pinggir jalan C. Simanjuntak yang tepat di depan tempat bimbingan belajar pada dahulu. Memori masa lalu muncul dan memecah kerinduan dengan obrolan-obrolan ringan menyangkut kemarin dahulu dan sekarang.

Saat terjadi pukul-pukulan di dalam kamar mandi antara teman, yang jelas saya hanya menikmati acara, tujuan awal saya datang ke tempat tersebut. Saya merangsek ke depan saat band tersebut main dan terjun ke pusaran moshing pit yang telah lama tidak bersetubuh dengannya, hingga terengah-engah pada berpuluh menit awal. Kurang sekali gunjangan foreplay atau terlalu banyak menenggak alkohol. Masih larut akan suasana tersebut tiba-tiba Seno menarik baju saya dari tengah-tengah moshing pit yang asyik berpogo ria. Dia mengatakan bahwa di luar banyak polisi, dan mental diri saya tiba-tiba turun dan terus bertanya. Mary semoga hilang lepas bercinta dalam tubuh saya selama akhir pekan di beda tempat. Namun   semangat muncul lagi saat tempat dari The Blue Hearts “Linda Linda” dimainkan, terjun ke depan lagi dan mundur keluar saat “Punk Rawk Show” membahana!
Ternyata telah aman tidak ada kumpulan sampah berseragam di luar, saya pun berbincang dengan Seno hingga para penonton banyak yang ke luar. Pulang dan terjebak di rumah sakit, antara teman satu dan teman lainnya, antara korban dan pelaku secara tidak langsung, antara salah dan benar, antara sudahlah!! Niat saya bukan untuk menyaksikan perkelahian, kenapa suatu permasalahan tidak diselesaikan dengan kepala dingin. Tapi anak-anak lanjut meminum alkohol lokal dan kembali bercanda. Untuk kali ini saya tidak ikut minum, setelahnya saya mengantarkan Seno yang bersikap tenang dan dewasa selalu serasa akan jatuh pada boncengan saat terhenti di lampu merah, yang pasti karena pengaruh alkohol..hahaha

Terimakasih MxPx karena telah menghadirkan memori belasan saya, dan selamat buat sahabat saya yang hari itu juga menjadi sarjana! 🙂

Janji: Untuk Yang Kedua Kali

Kita berdua kawan
Bertemu pada ketersengajaan
dengan wajah pipih dan bibir lepas 

Kau memberi ku banyak arti
dari awal terbentuk dewasa hingga kini
Menampar angin menembus pori-pori

Kita berdua kawan
Pernah suatu waktu saling diam
hingga diri ini penuh keterasingan
sepi…

Kita berdua kawan 
Saling memberi dan berbagi
Dua kepala yang sering berseberang
Namun merekah beri serta melengkapi

Memar tahapan hidup itu pasti
semakin berat…
Harus kita lalui

Waktu akan berganti
Menyatu bergabung dengan alam
Menapak di puncak tertinggi
merasakan angin menembus pori-pori 
sekali lagi… Engkau dan aku
Kita berdua kawan

Candradimuka II

Kawah canda
Di situ kita berteman
meluang tanpa beban
Memendar suatu dendam
Memenggal asa pudar

Hei kita bercerita
tentang mimpi
Nyata yang berat jika keluh
Membagi kepala beriring peluh

Kapan waktu kita bertemu?

Berlomba mendapat ranum
Sering sikut, tiada akut
Melengkap berbumbu lekat
Menuang hapus pekat

Hei teman
Kita bercerita
Tentang impian
mimpi menuju nyata
Berjuang dari tertatih
semoga hilang letih…

Sehari Bersama Karib

Suasana rutinitas yang kurang terpacu waktu masih menggerogoti diri, terbukti dari bangun siang tidak lalu langsung berbenah diri. Pesan singkat dari teman di daerah selatan lalu menggugah diri saya untuk surfing di dunia maya. Ini tentang kaos baru dari band yang kami bentuk hampir tiga tahun yang lalu. Saya disuruhnya untuk mewartakan ke banyak kenalan agar kaos limited berjumlah 12 ini cepat dipesan orang. Teman saya satu itu bernama Wisnu Auri, yah dia adalah seniman gambar yang sering memberi banyak ilmu bagi saya. Dahulu berkenalan pertama kali dengannya dikarenakan saya sangat menyukai The Herpess, band garage yang salah satu personilnya adalah dia bertindak sebagai vokalis. Banyak pelajaran penting yang saya dapatkan saat awal-awal dulu main ke kostnya, dari mulai musik, gambar, dan kehidupan. Di kost-kostan tersebut saya bertemu banyak orang, salah satunya Fida Irawanto yang saya lebih senang memanggilnya “Lik Da”
Mungkin suatu saat akan saya tulis lebih detail mengenai pengembaraan saya di selatan, khususnya di Taman Abortus a.k.a. Kostan Timuran.

Siang itu rencana akan ke kampus untuk mengembalikan bertumpuk buku yang saya pinjam di perpus. Pikir saya pasti ada anak-anak yang sekedar kumpul untuk sekedar bercengkrama. Ternyata kampus sedang sepi, akhirnya hanya mengembalikan buku saja dengan denda dua ribu dan lalu melanjutkan perjalanan. Oh ya di kampus saya hanya berpapasan dengan Pak Tri, pegawai parkir yang sangat dekat dengan anak-anak. Saya lalu memutuskan ke rumah Seno untuk menjenguknya.
Di kamarnya dia sedang asik mainan hape canggih, dan memulai pembicaraan dengan asyiknya film Thor yang baru saja dilihatnya. Rencana untuk nonton bioskop pun muncul, kata dia di film Thor adengannya akan nyambung ke film Avengers. Dia mempunyai rencana untuk mengajak Gaby juga, tapi di menit terakhir karena kesibukannya alhasil batal. Sebenarnya agak males dengan film, tapi karena ditraktir mau bagaimana lagi? 😛
Sembari menanti jadwal yang masih nanti malam, saya mempunyai ide untuk hunting piringan hitam bersamanya. Win-win solution terjadi ketika saya mau nonton, begitu pun seno yang mau serta ke pasar loak.
Sore hari itu lumayan puas saya bermain bersama Arsa Gheni Birawa, ponakan Seno yang lumayan aktif. Bermula dari saya ajak membeli jajanan di warung. Kami pun berjalan berdua dengan percakapan yang saya nilai di sangat cerdas untuk ukuran anak di usianya, atau mungkin saya yang sudah tertinggal jauh akan perkembangan anak kecil masa kini..hahaha

Dari bermain bola hingga mobil-mobilan dan juga bagaimana Arsa menirukan om dan Ayahnya saat meditasi, sungguh membuat terbahak dan menghibur sore itu. Baru bercakap bertemu dua kali dengan maksimal, saya pun merasakan kedekatannya. Dari mulai menghampiri dan bergelayutan di pangkuan. Ibu pun banyak berbincang dengan saya, khususnya mengenai kuliah. Beberapa kali Bu Yuyun menanyakan tentang kapan lulus, hingga saat ini juga masih dengan jawaban yang sama namun alasan yang berbeda. Salah satu Ibu dari teman yang saya tidak canggung untuk bebincang, hal yang sama kenapa tidak terjadi pada saat saya berbincang dengan Ibu pacar saya. Pasti hadir salah tinggi dan malu, pernah suatu ketika saya panggil “Ma” dengan nada lirih dan pacar merasa aneg mendengarnya…hahahaha

Kami pun berkendara ke arah barat dengan Seno membonceng karena kakinya masih bolong 10cm. Di mulai dari mencari sengsu di daerah Jetis dan alhasil mendapatkannya di daerah Serangan karena tutup. Ternyata sengsu tersebut enak juga, sama dengan yang di Jetis, sayang lumayan jauh. Bertemu juga saya dengan Eko, teman sekaligus orang yang suka ngutak-atik Vespa di bengkel langganan. Percakapan yang singkatan lalu kami pamitan untuk hunting!!
Tujuan pertama adalah tempat Pakdhe, namun nihil yang di dapat. Lalu menuju ke tempat mas Gondrong, kami berdua pun memilih-milih barang dagangannya dengan waktu yang semakin terburu. Dari beberapa barang yang saya sortir akhirnya kami memilih empat piringan hitam untuk dibawa pulang. Seno memilih dua LP band luar karena covernya yang dirasa psychedelic, sedangkan saya tertambat pada dua LP rilisan Indonesia. Satu milik Uci Bing Slamet, satunya lagi album Disco Anak-Anak milik Boy Is Haryanto karena covernya yang begitu futuristik namun sayang banyak coretannya..hahaha
Dengan duit patungan akhirnya kami membawa keempat album tersebut serta mendapakan banyak info dari para penjual, saatnya menuju bioskop!

sangat futuristik beserta coretan yang menambah bengal 🙂

Perjalanan pun lumayan tenang dan ditengahnya kami berbicara mengenai seorang teman yang dahulu bekerja di bioskop tersebut. Kamar mandi pun menjadi tujuan awal kami untuk sekedar membuang air kecil dan membasuh mata saya yang pedas karena serpihan debu. Loket pun tidak penuh sesak dengan antrian, maklum film yang kami liat sudah tidak up to date. Berhadapan dengan mbak-mbak penjaga, “mau pesan tempat duduk sebelah mana mas?” tanyanya. Saya pun lalu bertanya kepada Seno tapi  dia malah berkata “nomer hape mbaknya berapa?” Wah mulai nih jurus lihainya keluar dengan saya menarik diri sambil mengambil tiket. Sebelum masuk pun kami bertemu dengan teman dan diajaknya untuk minum alkohol, dan lagi Seno tergoda. Dia tidak ingat kejadian dua hari yang lalu, kejadian dimana membuat kakinya mendapatkan jahitan dalam. Padahal saya juga nyeruput sedikit itu minuman karena sangat haus 😀

Kami pun menikmati pertunjukkan dengan keadaan tenang namun sesekali mulai berisik dan tertawa terpingkal-pingkal. Apalagi saat adegan Thor dipukul oleh Hulk, sangat tidak penting..hahaha
Di akhir film dia pun bersikeras menunggu credit title sapa tau ada adegan untuk film selanjutnya, sebelumnya saya melihat ke belakang dan menemui Bagus sedang asyik dengan gebetannya. Hayo!! tertangkap basah!!
Kami pun pulang dengan saya yang sudah tidak sabar mendengarkan piringan hitam tersebut. Sesampainya di rumah saya pun mencoba satu-persatu dan merestorasi sebagian cover yang hampir rusak parah. Berbekal lem segala Uhu, lem yang selalu bisa untuk apa saja pikir saya, selotip dan gunting. Dua pilihan Seno dihibahkan ke saya, makasih kawan.
Kualitas dari keempatnya sangat baik, namun ada satu album yang tidak cocok antara vinyl dan cover, padahal itu digadang-gadang sebagai pilihan malam ini….sial!!!hmmmmm

pilihan Seno yang Nge-Funk

Hati-Hati: Kisah Sehari Penuh Misteri Mengguncang Tragedi

Sebuah hari pertama kemarin ketika cahaya terang mengusik dan deringan alat batere yang menggugah alam mimpi. Pertama setalah empat bulan terkungkum kepada buasnya nafsu manusia yang menjadi kepala namun menghasilkan pemutar piringan hitam untuk pemuas dahaga. Pagi berbaur dengan rutinitas yang serasa baru. Ke arah timur dengan penuh angin dan hawa yang segar lewat jalan belakang untuk bertemu dara, pada setelahnya terlewat kembali dan menuju peribadatan untuk hadir pada teman menjalin janji suci.
Perut telah terisi dengan hantaman bubuk roti dan air susu bercampur, teman pun berdatangan untuk bersama utara dalam radius satu kilometer lebih hadir bersama. Namun karena jam yang tidak mencukupi dara harus diantarkan ke tempat pelantang suara, tidak bisa hadir pada acara tumpukan orang yang biasanya kurang dikenal oleh mempelai dan menghasilkan cahaya yang terekam. Sebelum sampai memutuskan memutar langkah untuk menghantam perut dengan tumpuan khas Palembang berjejal jenis jumlah empat, dan nyatanya memang benar perut pun sesak dan ke rumah dahulu.
Dalam lingkup skala kecil ini kami mesra dalam erang namun hanya mendengarkan musik dan asap tembakau sebagai teman.  Berangkat dengan perlambat menuju gedung merah yang kecil dan ke utara dalam kesendirian. Menghadiri salah alamat dan berpapasan dengan orang tua, ternyata di tempat lain. Menuju ke tempat makan dengan menu beragam yang tersaji ada sekitar empat teremas pelan namun tidak berat dan setelahnya berfoto dengan teman-teman yang sedikit hadir namun mendapatkan cerita.

Menuju rumah dan menunggu Seno datang, ya teman kadang sekelebat hilang namun yang pasti di hati. Dia adalah yang sedikit banyak mempengaruhi dalam bahasa yang tersirat dalam tinta atau maya. Berencana untuk meminta Velvet Underground dan lagu-lagu India yang jarang saya punya karena dia sedang mendapatkan inti dari keselarasan. Setelah sepersekian dengan cerita dan realita saya memutuskan  menjemput dara kembali dan Seno yang menunggu di rumah dengan titipan dua bungkus jamu keras.
Kami pun bertiga kali ini dengan menjadi tiga bungkus plastik dan perjamuan dimulai dengan saya dan dia, sedangkan dara hanya bercerita saja. Temannya pun datang dengan menambah tiga lagi dengan penuh tergesa karen waktu mepet untuk menuju studio.
Di jalan mereka menjadi beringas dengan saya dan dara bersantai ditengah terpaan buliran air lembut yang tertutup kain tebal hitam. Sampailah di tempat dengan Seno yang bersantai namun kakinya berlubang.Sial! Haruslah dengan cepat ditutup dengan benang elastis. Namun dengan bersikeras dia merasa biasa saja dan akan sembuh sendirinya, saya pun lebih keras dan memaksanya bersama kedua teman lain untuk membawa ke tempat kelahiran dan kematian bertumpah ruah. Lumayan dalam sepuluh centi dan tiga atau empat bekas yang takkan hilang seperti tertembus timah panas. Saya pun mengisi berkas-berkas sembari menunggu sedarah turunan datang.
Yah pria ini memang sudah berulang kali mendapatkan hal seperti itu, namun ini tergolong parah dan semoga santai di jalan bertambah tanpa harus emosi menjangkiti kulit dan daging.
Seperti tertusuk luka sendiri dengan putih dan lemas mata saya melihat dan berpamitan pada keluarga dengan dia menuju sinar x memindai siapa tau terjadi apa-apa?
Dengan penuh bayangan hal tadi dan berjalan lambat layaknya pacaran akhirnya mengantar dara balik dengan lagi terpaan bulir dan angin, cerita segala dan pasti pulang dalam hati-hati

Koleksi: Kamu, Aku, dan Semuanya

Jujur saja beberapa hari ini saya lupa hari, namun sangat tertolong oleh adanya kalender pada sudut kanan bawah laptop yang terlihat benar. Di mulai dari kunjung pertama saya ke rumah mas Dian setelah sebelumnya mengawal ke ATM seusai rental tutup. Hari itu sudah masuk Jumat tanggal 30 Mei, penghujung bulan. Masuk rumahnya langsung disuguhi poster Charlie’s Angel yang lumayan besar di pintu masuk bawah, dia pun memperkenalkan saya dengan rumahnya, serta dengan istrinya dan anak perempuannya yang sedang terlelap. Pagi buta itu saya bersama mas Rinto, partner saya di malam hari pada rental. Lebih menghebohkan lagi ketika masuk di ruang kerjanya, ya ya ya, poster Bruce Willis berukuran super besar terpampang. Tidak heran, dikarenakan tuh si mas-mas gondrong sangat mengidolakan Om Bruce, sampe-sampe kalo Bruce Willis dateng ke rental doi akan minta tanda tangannya dan langsung ditato biar permanen..haha
Memang benar rumahnya berisi kepingan cd film koleksinya yang kalo diurutkan abjad bisa lebih ribuan menit untuk melewatinya, dan langsung dia memberi film favoritnya yang masih tersegel rapi  dari Itali, yaitu Cinema Paradiso. Ketika mas Dian dan mas Rinto ngobrol tentang proyek mereka, saya masih asik memandangi kumpulan film yang berjubel, wah wah wah!! dan kopi pun terhidang.

Ini kisah kedua, ketika Dony Iswara akan pulang kampung untuk bekerja bagai pepatah, lebih baik hujan emas di negeri sendiri daripada hujan bensin di negeri orang lain. Kenapa ada Dony lagi di kisah saya? karena hardisk doi dibawa mas Dian, dan Dony pun ingin mengambil di rumah saya. Sudah terhapus semua dan sekitar pukul 2.00 lebih saya pulang, dan bertemu Dony di burjo dekat rumah, tapi kok ada satu manusia tengil yang ikut besertanya, pake sarung lagi yang sungguh sangat-sangat tidak cool!! Ya dia adalah Agni, pemuda berambut gondrong kriting ponytail! Wah ini mah metal soleh. Agni dahulu adalah penjaga rental sebelum saya yang lumayan sering memberi referensi mujarab dan sekarang pun kembali di tempat yang berbeda. Dua orang itu sebelum cabut saya suruh untuk mampir ke rumah sebentar. Saya masih punya utang sama Dony karena belum membagi koleksi mp3 saya kepadanya. Hardisknya pun saya isi beberapa lagu-lagu yang sekiranya dia akan tertarik dan tak lupa rekaman dari Subjective Kind of Entertainment yang dia minta pertama ketika saya menghidupkan laptop. Wah, ini akan menjadi perpisahan lagi, saya pun ingin memberi dia kenang-kenangan yaitu kaos band. Namun sudah bongkar-bongkar lemari tidak ketemu jua. Selama sibuk mencari, ulah usil Agni pun muncul, corat-coret di dinding dengan hasil yang sangat jauh dari keren. Tiga lemari pun saya obrak-abrik dan nyata ketemu di dekat jemuran. Sebuah kaos Untitled Joy produksi pertama yang saya kerjakan bersama Dody. Ini yang mengingatkan saya akan Dody, namun kali ini sebelum berpisah saya ingin memberikan souvenir walaupun bekas namun itu produk sangat rare!! Hanya diproduksi dua, satunya punya Dody.
Saya ulungkan kaos tersebut kepada Dony dan semoga menjadi kenangan dari awal dia menawarkan film “Shocking Blue” hingga sampai ke rumah saya. Subuh pun meradang, dan gara-gara Agni keduanya belum pulang. Entah mengapa dia menemukan koleksi bokep saya dan sangat terbius padahal 3gp dengan kualitas standar. Pamitan pulang pun masih mencari-cari dan flashdisk saya pun ikut terbawa oleh Agni. Selamat jalan Don, selamat sampe tujuan dan sukses. #np Beady Eye – The Beat Goes On

Sehari berselang Sabtu pagi Bojes seharusnya sudah sampe di rumah saya paling lambat pukul sepuluh, tapi doi sms sedang di Samsat, mungkin jadi calo. Malamnya dia main ke rental tempat saya bekerja dan merencanakan untuk sama-sama mencari tempat KKL supaya cepat selesai kuliah..haha
Saya putuskan untuk tidur lagi, terbangun pada tengah hari dan hujan pun turun selimut pun kembali menutup raga saya hingga selang beberapa detik pintu kamar terbuka dan batal melanjutkan tidur. Bojes datang diantara jam 12 siang dengan pakaian yang bercorak air hujan. Kenapa dari banyak teman saya selalu berakhir ke bokep, sama seperti saya yang juga sering mencari-cari koleksi dari komputer yang saya jamah jika ke tempat teman..hahaha
Bermalas-malas ria sembari mengobrol dengan kopi susu yang lumayan menjadi teman dan tak lupa berbatang rokok putih yang halus di tenggorokan. Jika mau mencari agensi iklan jam-jam siang sangat tidak mengasyikan, saya pun punya usul untuk mencari mie ayam dan lanjut ke toko musik. Mandi dan keluar rumah sekitar dua siang lebih ke arah kota, dan sudah sampai di toko musik andalan saya akhir-akhir ini. Dimulai dari obral yang mana barangnya kurang keren hingga menuju ke belakang dan Pink Floyd pun sudah tidak ada dijajar DVD, saya pun bertanya ke mbaknya penjaga. “Mbak Pink Floyd’e endi?” sahut dia “Wah wis payu mas.” Tiba-tiba lemes, dan kemudian saya mencari box set yang saya taksir beberapa minggu yang lalu dan sudah tidak ada. Lakunya pun baru kemarin malam oleh assisten dosen, FUCK!! Saya kira tidak bakal laku dan akan menjadi milik saya sembari mengumpulkan uang. Sebenarnya sih hanya ingin lihat-lihat saja, lagian pesanan saya pun belum datang. Hingga saya bertemu mas Sigit yang juga bertanya-tanya proses box set itu laku kepada ibu-ibu penjaga yang ramah. Saya pun berkenalan dan bertukar nomer telpon, yang membuat saya iri dari mas Sigit ialah dia punya “Those Shocking Shaking Day” versi fisik cd dengan harga murah!! Kemudian saya ditunjukkan Freedom Of Rhapsodia dan Super Kid. Kenapa saya tidak teliti?!! ya langsung saya sikat walaupun uang tabungan untuk membeli player PH menipis. Sebelumnya saya bertanya kepadanya apakah dia sudah punya kedua CD tersebut, dia pun menjawab sudah. Takutnya saya mengambil CD tersebut dan “colong start”. Kami pun bercakap tentang musik, dan sedikit curhat semoga saya dimuluskan jalan untuk mendapatkan player PH hingga melupakan Bojes yang menunggu di depan toko sambil merokok. Pulangnya pun masih tetap mencari mie ayam namun bakso babi di daerah Mrican lengganan saya dari kecil pun tersematkan di perut kami berdua dengan tambahan nasi dan sore pun menjelang..hahaha