Harlan itu Hidup

Mendengarkan Harlan adalah proses kontemplasi memaknai lebih dalam kehidupan. Kesederhanaan, kisah yang tidak dibuat-buat, mengaduk emosi. 

“Jangan keruhkan lagi suasana, dinginkan hati kompres kepala. Tak usah mengeluh pada matahari, di depan kaca kita ceria.” 

(Harlan – Dandan, 2013)

Nb: suatu saat akan saya ulas lebih mendalam. 😊

Advertisements

London Calling: Hormat Saya Pada The Clash!

BGCguOpCAAAu6y0

 

 

Sabtu minggu lalu barang pesanan saya telah sampai di rumah, membuat perjalanan Jalan – Jalan Rock saya bersama Amang kurang khusyuk. Pesan singkat dari adik membuat sore hari saya hanya ingin memusatkan diri dalam ruang lingkup skala kecil.
Hari itu adalah agenda saya bersama Amang untuk membuat sebuah artikel yang entah kapan diterbitkan oleh majalah kampus. Baru setengah hari berjalan namun lelah sudah melanda. Senja telah memudar dan kami pun menuju ke Utara dengan peluh yang telah berubah menjadi kulit. Janji kami untuk bertemu narasumber lagi pada malamnya terpaksa dibatalkan.

Sampai lah kami di rumah, mata saya langsung tertuju pada bungkusan coklat yang terongkok pada kursi. Membukanya perlahan dan mengeluarkan dengan sangat hati-hati.
Piringan hitam The Clash London Calling pun sudah berputar dan membuat saya tersenyum-senyum tanpa henti dengan badan yang tidak mau terdiam barang sejenak. Amang pun heran, tapi tak apalah. Suatu kehormatan untuk mendengarkan double LP nya bersama, walaupun sempat terhenti karena laga antara Indonesia vs Arab Saudi.

Piringan hitam yang sangat berarti, terlebih juga karena bandnya. Ingatan saya pun tertuju saat kelas satu SMA, perjumpaan saya pertama kali dengan bentuk fisik album London Calling ini adalah saat teman saya titip dibelikan. Mungkin dia titip karena pada saat itu saya sering beli kaset atau cuma liat-liat di toko kaset Kotamas. Toko kaset yang memuaskan anak-anak setongkrongan saya saat SMA untuk bisa mendapatkan referensi band-band Punk, Hardcore, Metal. Terkadang bajakan, namun tetap saja terbeli. Harga satu kaset di toko tersebut dibandrol enam belas ribu rupiah. Cukup menguras uang saku buat saya pribadi. Kaset-kaset keren tersebut mendapati tempat khusus di bagian belakang toko dengan format kaset yang sama.

Perjumpaan yang sangat membuat saya jatuh cinta pada album The Clash London Calling ialah pada saat pacar membawakan CD album tersebut. CD yang ia dapatkan langsung dari Korea oleh-oleh dari kakaknya. Hal yang membuat saya tertarik adalah karena terdapat lirik pada album format CD tersebut. Saat hari-hari saya keranjingan selalu membolak-balik lirik tersebut, membaca, dan menyelaminya. Menyelami makna lirik tersebut melalui subjektivitas pribadi.

Track pertama kali yang membuat saya jatuh hati adalah London Calling, sebuah teriakan yang sangat athemic dan irama yang gelap tentang kehidupan pasca perang. “The ice age is coming, the sun zooming in. Engines stop running and the wheat is growing thin.”  Dan yang semakin menjauhkan saya akan The Beatles, mungkin karena liriknya yang berbunyi “All that phoney Beatlemania has bitten the dust.” saya pun mengamininya.
Album ini menyuguhkan Punk Rock, Reggae, Ska, Jazz yang dibalut dengan menyenangkan. Semakin terjerumus ketika masuk ke lagu The Guns of Brixton, kocokan irama gitar yang membuat tenang namun tetap saja terkesan gelap.

Dua track yang membuat saya merebahkan telinga dan pikiran saya akan The Clash, sehingga keseluruhan 19 track sering berputar tanpa putus. Mungkin hanya sebagian yang dapat saya jabarkan. Karena penjabaran akan semuanya, hanya akan membuat saya ngalor-ngidul mencari pemaknaan supaya terlihat akademis. Ini tulisan tentang album dan pengalaman saya terhadapnya. Keseluruhannya tersimpan dalam hati, agar anda yang membaca ini penasaran dan memcoba mengulik untuk pemaknaan keseluruhan album ini agar lebih pribadi.

Beruntung sekali saya mendapatkan piringan hitamnya dengan hasil kerja keras. Jika ditanya album apa yang mempengaruhi hidup saya? Saya akan menjawab salah satunya London Calling milik The Clash, album yang menjadi kiblat saya dalam bermusik. Lirik-liriknya yang menurut saya sangat dalam tentang merangkum fenomena kehidupan pada masanya yang hingga kini masih bisa dinikmati dengan bahasa yang puitis.

Yak! London Calling ada dan mewarnai kehidupan saya. 🙂

 

 

Psikadelika Imaji Jari Vetrov

Siang terasa dengan kaki yang pegal dengan bangun yang kurang nikmat, mungkin dikarenakan tidur yang terlalu larut melebihi jam 5 pagi. Sebenarnya ingin tidur cepat dari biasanya tetapi ya karena asik nonton film di tv dan lapar pun meradang, Beranjak keluar sekitar 2 atau 3 dini hari dan mendapati Simbah saya berjualan untuk sahur. Lumayan lah dengan berjalan kaki tidak 100 langkah. Makanan pun sudah sampe ke pencernaan dan berbincang dengan Simbah muda saya tentang masalah magang di Jakarta, sebenarnya sudah mau selesai ketika ada seorang pria yang jajan dan mengikuti alur percakapan kami. Akhirnya malah saya berdua bersama pria tersebut sangat asyik dengan obrolan. Percakapan itu di mulai ketika dia mendengarkan bincang saya dan ternyata dia orang asli Jakarta yang memberikan wejangan tentang sana. Ya setelah proposal direstui dan tempat magang memberi lampu terang sekarang dipusingkan dengan mencari tempat naungan. Dia berkata sudah malas hidup di Jakarta dan sudah nyaman tinggal di Jogja, dan saya malah kebalikannya ingin mengadu nasib di sana. Mulai dari Jakarta hingga bisnis dan hobi yang kami perbincangkan, ternyata dia dulu memiliki dua peti koleksi piringan hitam yang ga tau kemana nasibnya..wah!! Hingga dia menuntaskan beberapa puntung rokok setelah suara lantang dari Masjid berbunyi kami pun mengundurkan diri masing-masing. Saya pun lantas beranjak ke kamar dan malah bukannya langsung tidur tapi entah mengapa sibuk membersihkan beberapa koleksi 7″ sembari mendengarkan, terdapat satu koleksi single dari The Bangles yang Eternal Flame pinggirnya pecah. sial!!

Lanjut ke kampus setelah terlampau siang membuka mata dan langsung menuju TU untuk mengambil surat pengantar, beberapa menit menunggu saya habiskan dengan duduk yang terlalu santai di lobi. Setelah surat selesai dan sedikit perbincangan yang terlontar dari Ibu genit pembuat surat dan saya. “Sukses ya, di sana hati-hati.” kata dia, serta merta saya menjawab “njaluk sangune buk?” dia malah membalikkan gurauan saya dengan minta oleh-oleh..haha
Bermaksud untuk langsung pulang namun sebelum sampai parkiran malah diajak berbincang asik dengan Bapak pegawai  kampus yang menawarkan saya rokok, kebetulan sekali lah pikir saya. Dua batang rokoknya dengan dua merk berbeda telah habis terhisap dan obrolan yang selesai dikarenakan jam kerjanya telah habis dia minta undur diri untuk mematikan komputer, saya pun langsung beranjak untuk menuju tempat percetakaan.

Ingin lewat jalan kampung malah terhenti dulu di rumah Edo, karena jalannya memang melewati daerah tempat tinggalnya. Dia lagi beberes kamar dan saya menanyakan apakah dia memiliki koleksi kaset lama? dan saya pun terpana ketika ditumpukan ada cd That’s Rockefeller (Vetrov) yang masih tersegel. Wah saya pun langsung memintanya untuk menghibahkan, dengan syarat pertukaran yang mujarab dan uang saku saya terkuras setengahnya. Tapi tidak jadi soal, itu rekaman memang saya suka, setelah hanya menikmatinya melalui mp3 ingin rasanya mendengarkan versi suara yang lebih tinggi, tapi hingga sekarang saya menulis ini album tersebut masih terbungkus plastik.

Saya teringat benar beberapa taun yang lalu saat kelas 2 SMA pernah menyaksikan aksi panggung mereka di Java Cafe. Tidak begitu konsen sih menikmati aksi panggungnya, karena band yang saya tunggu Goodnight Electric dan jujur saja saya belum tertarik dengan penampilan mereka, yang saya ingat ialah sang vokalis memakai kaos garis-garis merah hitam.
Singkat kata beberapa taun setelahnya tepatnya 2009, saya main ke kost teman yang mana vokalis The Herpess. Sembari dia melukis seringkali memutarkan lagu dengan sambungan speaker yang lumayan mujarab. Salah satunya ya dia memperdengarkan That’s Rockefeller dan muncul ketertarikan mendalam dari saya. Membongkar data di laptop yang saya ingat kelihatannya masih ada. Suara sound-sound psikadelika pun mengalun terlebih dari jentik jari sang kibordis almarhum Hendra Petrov, nama tersebut tidak asing karena saya pernah melihatnya di album Matraman dari The Upstairs. Hingga tulisan di internet yang seringkali bertutur tentang kibordisnya yang mati muda di umur 20 tahun karena kecanduan obat-obatan. Bahkan album ini didekasikan untuk kibordisnya dan berjudul “Vetrov” sungguh sangat memilukan menurut saya. Kibordis yang sangat menggilai Ray Mazarek dan menuangkan nuansa kelam pada Alexander Graham Bell nya The Upstairs. Saya menaruh hormat mendalam baginya dan sangat penasaran seperti apa penampilannya saat di panggung. Pernah suatu kali saya melihat di Youtube, para personel lain menghormati kepergiannya dengan mengkosongkan posisi pada kibor dan menyalakan dupa. Demi menghilangkan rasa penasaran dan tidak ingin terperangkap terjebak dengan pemikiran para kolektor yang kolot akan sebuah koleksi akan semakin mahal jika kondisi utuh….TAI!! Apa yang akan kalian nikmati? Akhirnya saya membuka album ini dan mendapati foto seorang pemain “papan kunci” seperti  yang dibahasakan didalamnya. Hei mas Hendra Saputra suara permainanmu memang sungguh sebuah imajinasi yang gila!!!