Ruby on Your Knees

First time I meet You
I’ve got shine in your eyes
Never told the part of my blood
That I’m hit the wall with my mind
Oh yeah, with my mind
Oh yeah, with our mind

Jumping to the middle room
And I see You lying in bed
Record was spinning for two of us
We sleep together in the wind of hate
Oh yeah, in the wind of hate
Oh yeah, in the wind of hate

I call my mother
I call my father
Nobody knows I’m with her
Then I realize
See through the mirror
Oh I’m being alone, I’m being alone
I’m being alone
Oh yeah I’m being alone

Ruby on Your Knees

Advertisements

Anomali

Kamar yang senyap ini sebagai teman sebelum menyentuh peraduan. Aku masih terduduk pada kursi yang menghadap pada meja kayu, yang telah berwarna usang karena usia. Bingung pun semakin hinggap di kepalaku, dari tadi aku hanya menurun-naikkan scroll mouse, seraya terterpa sinar dari komputer lipat yang mulai tidak nyaman pada mata. Batas waktu tinggal esok hari untuk menyelesaikan cerpen yang belum sekali pun kuketik. Mata ini semakin merah karena dari petang menggelayuti sinar mentari hingga hampir pukul 11.OO malam aku masih terlalu asyik untuk selancar di dunia maya, serta terpaan asap rokok yang tak ubahnya sebagai teman peramu insipirasi. Tapi toh hanya sesak yang didapat.

Saat berselancar di dunia maya itu pun aku bernostalgia dengan situs pertemanan yang di dalamnya menyuguhkan juga mengenai band dan lagunya-lagunya. Ini yang membuat awal kuliahku sungguh runyam, tak jarang aku kurang tidur saat itu dikarenakan terlalu sering mendekam pada situs musik tersebut.

Beranjak aku dari dalam hisapan dunia maya ini dan menuju sudut ruangan. Sudut ruangan di mana aku menaruh koleksi musikku. Aku pun terduduk kembali, kali ini di sebuah kursi berbahan busa yang berwana merah pudar. Kursi yang menemani kesendirian dan teramat nyaman sebagai tumpuan tubuh. Sebelum merebah benar pada kenyamanan busa sebagai sarang debu itu, aku pun mengambil sebatang rokok dari dalam bungkusnya. Rokok bernikotin rendah yang kuhisap sangat dalam setelah bara api dari pematik menyulutnya. Asap menthol pun terkungkum di dalam mulut meluncur deras ke paru-paru lalu kuhempaskan perlahan. Kemudian tanganku menjulur pada deretan plat yang terjajar rapi pada meja di depan posisi aku duduk. Rokok pun sangat erat terselip pada gigi, dengan asapnya yang membumbung menuju mata. Mulailah aku memilah-milah deretan plat. Gerakan tanganku pun mendadak terhenti saat mataku tertarik akan plat kecil berukuran 7”, plat dengan cover berwarna jingga senja. Aku lantas mematikan rokok yang masih tersisa setengah pada asbak hitam yang hampir penuh. Dengan hati-hati aku mengeluarkan plat berwarna putih tersebut, dan menempatkan perlahan pada player tua ku. Alunan lagu pun mengalun dengan tenangnya. Mata pun semakin berat, melawan aku akan katup penutup retina ini.

Terbangun saat senja yang mulai tergerus akan hitamnya malam, bergegas menuju wastafel di lantai bawah. “Ini sangat fatal!” teriakku pada diri sendiri di depan kaca seusai mencuci muka yang teramat kusam. Setelah mengelontorkan air dingin yang membasahi tenggorokan, aku pun kembali menuju tangga dengan langkah tergesa. Kembali menuju komputer lipat yang telah lama terlupakan, seraya memeras otak untuk menentukan alur cerita cerpen yang masih berupa lembaran putih pada layar. Tetapi semakin memaksa organ pada balik tempurung ini, semakin nihil yang ku dapat. Mungkin keluar sebentar dari dalam rumah akan meredakan suasana pikirku.

Tali sepatu sudah terikat dengan kencang, jaket penahan hujan tanpa kerudung pun sudah kukenakan. Langkah pun menuruti kebingunganku akan apa yang akan tertuang pada kisah cerpenku. Sudah hampir lima menit aku berjalan, dingin pun semakin menggelayuti dari kuping menuju ke kaki. Ku rogoh saku jaket sebelah kanan lalu mengeluarkan bungkus rokok. Sebatang rokok pun telah menyala, yang akhirnya semakin membuat dingin.

Bingung langkah ku pun yang menempatkan aku pada bangku taman, dengan sekeliling yang mulai sepi. Temanku hanya pendaran cahaya lampu taman berbentuk bulat yang menjuntai dari tiang berbahan besi kokoh, dan tentunya sebatang rokok yang akhirnya ku buang karena semakin menyayat tenggorokan.

Aku pun termenung melamun menundukkan kepala dan melempar tatapan kosong pada sela-sela sepatu, kemudian seisi pikiran semakin terhisap pada ruang abu-abu yang entah dari mana datangnya. Ide mengenai berbagai cerita cerpen pun mulai menggelayuti pikiranku. Serasa muncul gambaran sesosok gadis perempuan yang melayang bertumpu pada isi kepalaku, aku pun semakin tenggelam teramat dalam.

 Lamunanku buyar saat tangan lembut menarikku dengan paksa. Ternyata rintik air yang mulai memuncak turun dari langit yang telah berbalut pekat. Tersadar penuh saat lembutnya jemari dari sesosok bermantel kuning ini beradu dengan jemariku. Dia pun semakin menggengam erat tangan ku dan menaikkan tempo langkahnya yang serasa melayang, aku pun tanpa sadar mengikutinya. Aroma parfum yang samar dari tubuhnya pun menyambar memenuhi indera penciumanku, dan semakin membiusku untuk mengikutinya.

Kami sudah berada di depan rumah tua, rumah yang sangat asing bagiku. Kami pun saling berhadapan, ia lalu menurunkan penutup kepala dari mantel berwarna kuning yang dikenakannya. Aku pun lalu melontarkan pertanyaan bernada sopan “Hei, siapa kamu?” dengan mataku yang memadang gadis itu dari atas ke bawah dan mengerucut pada kedua bola matanya. Mata yang menurutku indah, tetapi jika melihat lebih dalam serasa terselip makna muram. “Aku seseorang yang akan menemani malammu?” dengan lirih ia mendesirkan pita suaranya yang begitu lembut sembari melepaskan senyuman manis yang tercipta dari kedua sudut bibirnya. Senang rasanya aku mendapatkan senyuman dari gadis yang berparas rupawan namun sedikit pucat karena pengaruh terpaan dingin hujan. Tetapi dibalik rasa senang ku masih saja bercampur rasa heran karena perkataannya beberapa detik tadi.

Ia pun menawarkan masuk ke dalam rumahnya, entah mengapa aku tidak menolak tawarannya. Hujan yang semakin deras mungkin salah satu faktornya pikirku dalam hati. Kami pun memasuki rumah, “Jaketmu digantung di situ saja.” Gadis itu pun menyuruhku sembari menunjuk kapstok dibelakang pintu. Aku pun menuruti si empunya rumah, ia lantas melakukan hal yang serupa setelah aku. Baru terlihat ia mengenakan baju terusan berwarna hitam setelah mantelnya ditanggalkan, dengan rambut yang tergerai sepanjang bahu. Aku baru memperhatikannya lebih teliti, karena tadi pandanganku hanya terpusat pada matanya yang begitu indah. “Mau minum apa?” ia pun menawarkan dengan manisnya. Belum sempat aku membalas pertanyaannya, ia kembali berkata “teh saja ya?” Aku pun mengangguk seperti anak anjing penurut. Ia lalu mempersilahkanku duduk, lantas menuju dapur.

Saat aku mengistirahatkan tubuh dengan merebahkannya pada sofa merah muda yang sangat nyaman ini, aku mulai memancarkan pandangan mata kesana – kemari  seolah ingin tahu. Nuansa hangat memancar dari balik tembok bata merah, dengan ruang tamu yang sangat rapi. Dari tempatku duduk, pandangan lurus ke depan langsung menuju pada televisi berukuran sedang yang bertumpu pada meja kayu mungil berplitur mengkilap. Masih saja pandangan mataku liar, lalu terhenti ketika tertuju pada tumpukan plat di sudut kiri ruang tamu yang berada di atas rak kayu. Langsung saja aku menuju rak tersebut, melihat koleksi plat gadis yang sampai sekarang aku belum tahu siapa namanya. Sekitar sepuluh album yang menumpuk di atas rak, dan dari sepuluh album itu tidak ada yang ku kenal. Kemudian secara spontan aku melihat – lihat  jajaran plat pada rak, kali ini ada beberapa koleksi yang aku kenal. Mulai dari album Velvet Underground, dan juga beberapa album dari Pink Floyd. Tapi yang paling menarik dari sekian banyak koleksinya adalah album Chelsea Girl. Aku hanya berani memegang dan melihat-lihat covernya tanpa mengeluarkan isinya. Pada cover itu Nico bertopang dagu terlihat sedih, seirama dengan isi albumnya yang sungguh membuat haru biru ketika aku mendengarkannya melalui mp3.

Aku pun sudah duduk kembali pada sofa, saat gadis itu membawa dua cangkir teh yang mengepulkan asap serta menghasilkan aroma harum yang menjalar ke seluruh ruang. Ia lalu menyerahkan secangkir teh panas kepadaku sembari duduk tepat disampingku. “Namaku Avalon” dia mengulurkan tangannya ke arahku. Aku pun menjabat tangannya dengan hangat dan memperkenalkan diri juga, “Aku Nawangsa, Nawangsa Obituari lengkapnya!” Gadis itu kemudian tertawa dan menimpaliku dengan pertanyaan “kenapa Obituari?” masih menahan gelak tawa. “Karena Ayahku dahulu kerja pada koran lokal sebagai pengisi rubrik obituari.” Jawabku dengan mantap. Tetap saja gadis itu masih tertawa mendegar penjelasanku, bahkan hingga matanya keluar air. Aku lalu bertanya kepada gadis itu “kenapa kamu mengajak ku kemari?” Masih dengan tawa yang sudah hampir habis ia lantas berkata “bukanya kamu yang mengikuti kemari?” Setelah menyelesaikan kalimatnya ia pun mulai terkekeh kembali. “Maaf, maaf, sebenarnya aku butuh ada yang menemani.” Nada bicaranya pun terkesan sedih bersambut dari mimik mukanya yang serupa. “Lho, kamu tinggal sendiri ya di rumah ini?” tanyaku dengan rasa ingin tahu. “Ia, hampir seumur hidup aku sendiri.”  Jawaban yang ia kemukakan sebenarnya masih mengganjal, tapi aku tidak melanjutkan rasa keingintahuanku, takut akan menyinggung hatinya yang terasa sepi. Memang dari tadi aku melihat sekeliling tidak ada foto keluarga terpampang sama sekali.

Kami berdua hanyut akan percakapan, terlebih mengenai plat Chelsea Girl dari Nico. “Kamu suka Nico juga ya?” tanyaku dengan sangat antusias “Iya, isi dari album itu sangat gelap, dan aku sangat menyukainya. Persis seperti hidupku.” Ia pun terkekeh dengan senyum satir, dan memutar album tersebut pada turntable berbodi kayu. Entah mengapa suasana mendadak kurang nyaman dan kosong. Bergidik bulu roma ku serasa diterpa angin dingin yang menembus pori – pori menusuk tulang dengan halusnya. Suasana pun kian mencekam ketika gelegar suara petir muncul dari luar rumah. Aku pun seraya meminta diri untuk pulang, karena dentang jam dinding sudah sekali dari sebelas kali setengah jam lalu. Mulai teringat akan cerpen yang belum jadi, karena masih awang – awang yang tertutup samar.

Ia memaksaku untuk menemaninya barang sejenak lagi, “Maaf aku ga bisa, masih ada pekerjaan yang harus selesai hari ini.” sergahku dengan refleks yang tak tertahankan. “Sebentar lagi ya? Di luar masih hujan juga.” Ia pun semakin merajuk dan menarik tangan ku agar tinggal. Terpaksa aku menurutinya dan kembali duduk di sofa yang masih hangat karena bekasku lama terkungkum di dalamnya. Ia pun terdiam, begitu juga aku karena malah kikuk menembus relung. Mataku menjamah – jamah lagi keliling ruangan, aku pun melihat televisi berukuran sedang persis di depanku, menuju pada layar cembungnya. Aku pun terperanjat dengan pantulan cermin yang berada di dalamnya. Kemudian aku melihat ke samping, tempat gadis itu duduk. Ia pun masih terdiam, kembali tatapan menuju pada layar cembung. Benar saja, tidak ada seorang pun disisiku. Bulu pada tengkuk ku pun mulai menyalak, gigi gemertak dan badan bergetaran. “Siapa kamu?” tanyaku dengan terbata. Eulogy to Lenny Bruce pun meruang dengan lirihnya. “Aku adalah kisah malammu.” Senyuman darinya pun mengembang dan matanya pun pucat pasi, terbungkus oleh roman mukanya yang putih sirna lali menghilang.

Aku pun bergidik dan melepaskan langkahku keluar rumah, hilangnya gadis itu dari hadapanku tadi yang memberanikan niatku untuk berlari tanpa tahu arah. Lariku semakin kencang, aku sama sekali tidak bisa berpikir jernih. Setelah lama berlari dengan tatapan terus ke depan, sekeliling pandanganku mulai terlihat normal saat langkahku melambat karena stamina yang terkuras dan membuat nafas terengah – engah. Berangsur – angsur semakin melemas dan sekeliling menjadi buyar gelap. Aku pun melayang menatap tubuhku sendiri yang jatuh tersungkur, terkulai pada bahu jalan. Aku pingsan!

Masih lemas saat aku membuka mata, aku pun tersadar dengan tubuh yang bertumpu pada bangku taman yang sangat tidak asing. Nafas masih sedikit tersengal, aku pun memantapkan diri dengan indera peraba yang menjalar memenuhi bangku tersebut. Puas setelah mendapati bahwa ini adalah bangku tadi tempat aku melamun. Udara pun kuhirup dengan dalamnya, serta mata yang memutar melihar sekitar. “Ah ternyata hanya mimpi.” Kataku dalam hati menandakan puas. Aku pun memutuskan untuk pulang. Beranjak aku dari bangku taman dan mengangkat tubuhku dengan mantapnya. Belum sempat aku menapakkan langkah pertamaku, tiba – tiba datang tepukan tangan dari belakang yang mengapai pundakku. Degup jantung yang kencang pun memuncak kembali, kutolehkan kepala kearah kiri dengan perlahan. “Halo Nawangsa!” suara yang sangat tidak asing bagiku, dengan wajah pucat laksana menghantui tepat pada pandanganku. Gadis tadi, iya benar gadis tadi yang bernama Avalon!

Mata pun terkesiap terbuka lantang, dengan tubuh yang telah deras akan peluh bercucuran. Masih posisi terduduk pada kursi berbahan busa berwarna merah pudar.  Jam digital di pergelangan tangan menunjukkan pukul 11.13 pada hari yang sama. Aku pun menarik nafas panjang yang dalam serta menyeka peluh dari tengkukku. Kali ini aku benar – benar  menelusuri kesadaran ragaku, takut akan kejadian yang sudah – sudah. Anomali dari Rumahsakit pun telah usai, saat tonearm kembali ke tempatnya dan menghasilkan suara derit yang khas. Mungkin alunan lagu itu yang menyebabkan mimpi burukku membabi buta. Langsung saja aku memasukkan kembali plat putih tersebut kedalam balutan wadah jingga dan menaruhnya jauh di dalam laci meja. Aku pun memutuskan untuk tidak tidur lagi, dan sepanjang malamku hanya hanyut pada acara televisi hingga pagi menjelang. Mengenai cerpen, akhirnya tidak kukerjakan sama sekali.

anomali

Perpustakaan dan Toko Buku

Pikiran berat akan beban di saat bangun siang, yak! Itu terulang-ulang terus. Setelahnya mandi lalu menyiapkan kemeja hijau yang selalu tergantung di lemari, kemeja bapak yang sekarang menjadi baju resmi saya. Sudah jam satu siang saat saya bergegas untuk sarapan dengan sop rolade yang dibuat oleh ibu, menu favorit saya semasa kecil, tapi akhir-akhir ini masih susah makan karena minggu lalu terserang asam lambung yang dahsyat seperti tilas makan tape saat sendawa. Akhirnya makan juga, serta sejenak membaca dua koran lokal seharga masing-masing seribu dengan penuh kesenyapan. Entah mengapa saya sebenarnya membenci dua koran itu karena beritanya selalu sama dan cenderung tidak dalam, tetapi tetap saja jika sarapan kedua koran tersebut selalu menemani dengan aromanya yang khas dan tata letak iklan yang suram.
Bergegas ke kampus namun sebelumnya mampir ke rumah Edo untuk menagih uang kepada Bayu, karena kami berdua memesan plat 7″ Seringai dan saya telah mentransfer uangnya semalam dengan mahar dua ratus ribu berdua, harga ekonomis untuk saya yang sangat kesusahan uang minggu ini. Sebenarnya saya kurang suka band itu, tapi adik katanya suka, maka terbelilah plat dua lagu tersebut. Uang tersebut saya kirim ke Jakarta dengan bantuan atm di dekat rumah, saya mengajak adik dengan membonceng agar tidak harus membayar parkir karena dia menunggu di motor. Tapi ternyata tetap harus membayar pajak, tak apalah sembari dongkol karena motor dijaga sendiri masih harus bayar.
Di rumah Edo berkumpul beberapa orang, Bayu pun menyerahkan seratus ribu dari dalam dompetnya yang hitam kulit sembari bertanya kapan plat itu datang, saya pun menjawab dengan ketidaktahuan. Selesai satu batang rokok saya pun menuju kampus.

Berada di perpustakaan dan mencari judul buku di raknya melalui komputer, masih tidak ada. Akhirnya saya pun mecari buku yang berhubungan dengan etnografi, karena menurut bu guru dosen bimbingan saya, skripsi saya cocok akan itu tapi tetap masih meneliti fenomena plat piringan hitam. Ada dua buku yang akhirnya saya pinjam, satunya berbahasa Inggris – satunya yang pasti Indonesia yang paling-paling susah dimengerti daripada tulisan berputar Sindhunata sekalipun. Buku yang bisa saya pinjam sampai 28 Mei, karena saya telah menggurus izin mahasiswa yang telah skripsi, “Seharusnya dua tahun yang lalu” Batin saya dalam pikir.
Menuju ke kantin setelah mengembalikan kunci loker penitipan tas nomer 211, kantin sepi dengan manusia yang saya kenal, hanya beberapa dan saling sapa dengan teman. Saya pun memilih meja sepi dan duduk sendiri, menyalakan laptop dan membuka dagangan plat online saya yang belum ada komentar, mungkin terlalu mahal. Setelahnya mencari judul dua buku Amalia E Maulana yang kelihatannya mempunyai kontak batin pada dosen pembimbing saya. Ini seperti kasus semestar satu atau dua saya lupa, dimana saat itu mahasiswa di kelas disuruh untuk meneliti “Pengakuan Pariyem” alhasil dosen itu ampuh benar untuk menyuruh anak didiknya meminjam di perpustakaan yang nyatanya kosong, kami pun akhirnya mengeluarkan uang lagi! Uang orang tua kami. Saya pun membenci sekali apa yang dikatakan universitas sebagai perpustakaan kalau saja koleksi bukunya sangat sedikit dan sangatlah tidak terawat. Yah pertama petugas perpustakaannya malas untuk merawat, kedua ya karena mahasiswanya kurang ajar tidak merawat buku dengan semestinya! Buku pun sangat sedikit nyaris tidak ada di perpustakaan, setelah dari kampus saya pun berencana keliling toko buku untuk membelinya, jika boleh meminjam atau memfotokopinya itu lebih baik!

Pertama yang saya datangi ialah toko buku dekat musium pelukis kenamaan yang mirip Albert Einstein itu. Saya selalu tidak nyaman jika masuk toko itu, suasananya jauh seperti toko buku. Jika penggambaran dalam novel grafis pastilah perpaduan warna hijau – coklat – hitam yang gelap. Saya pun bertanya pada pegawai toko akan buku Consumer Insight dari bu Amalia, di dalam komputer dia pun mengatakan ada dalam daftar, dalam hati pun saya senang. Tapi ketika dicari di rak bukunya kosong, lemas jadinya.
Antara kecewa dan senang saya bisa menuju untuk mengakhiri penderitaan toko buku yang kebanyakan memajang buku berhuruf timur-tengah tersebut, dengan mata saya sebelumnya tertuju pada seorang pria berambut keriting panjang membawa daftar panjang kertas nota dari komputer toko sembari menenteng banyak buku. Duh! calon menteri pikir saya, yang semoga tidak mejadi kerah putih yang korupsi.  Mengambil tas dengan ketidaknyaman yang ditunjukkan oleh penjaganya merangkap satpam dengan badan legam hitam. Inilah toko buku diskon yang selalu tidak akan saya datangi jika tidak kepepet, karena suasana dan lain lain lainnya.

Kemudian berlanjut ke toko buku di tingkat dua seberang bioskop yang sekarang tiketnya naik sepuluh ribu, karena tidak tau mungkin karena harga minyak yang melimpah ruah di negeri ini akan naik. Baru saya memarkir, meletakkan ikatan helm setelah turun motor menengadah ke atas, kok berganti menjadi pusat jualan hape. Saya pun bertanya pada pakdhe tukang parkir, yang menjawab bahwa toko buku itu telah pindah di Kota Baru. Pikir saya yang di daerah itu cabang baru, ternyata pindahan, dengan polosnya saya pamit dengan tukang parkir tadi dan menuju ke toko buku pindahan tersebut…Ngennnng!

Sesampainya di toko buku, judul yang saya cari lagi-lagi tidak ada. Yah banyak sekali jika mau mencari buku twitter, kata-kata dari twitter dibukukan yang sangat tidak penting menurut saya. Tapi saya lumayan menyukai toko buku ini, walaupun tokonya kecil tapi bukunya tidak ada! Tetap saja kecewa dan memutuskan menuju utara sedikit menuju toko buku favorit saya, yang tidak pernah memberi diskon harian seperti kedua toko tadi, tetapi saya sangat suka berada di toko itu dan selalu saja ada kisah.
Toko buku ini sekarang tidak ada ritual penitipan barang, hal yang saya rindukan jika di toko buku. Karena saya bukan pencuri, kenapa harus menitipkan barang! Dengan menggendong tas berisi laptop dan dua buku yang tadi dipinjam pada perpus saya masuk toko tersebut. Pertama ritual di toko itu saya selalu menyempatkan menuju penjualan cd, ternyata tidak ada yang baru. Dan mungkin ketertarikan saya akan cd semakin berkurang, setelah terlalu dalam terjerumus dan berteman dengan plat. Naik satu lantai, saya disuguhkan mainan rakit-merakit untuk menjadi suatu kendaraan, hanya tertarik saja dan tidak kuat membeli. Karena sebelumnya pernah membeli yang boks kecil dengan harga murah, ternyata isinya kecil sekali. Ternyata gambar dan kemasan sangatlah menipu. Seperti saat kecil saya sangat sakit hati dan tertipu rayuan maut Corn Flakes yang ternyata tidak ada buah stroberi di dalam kemasan, buah yang hanya bisa saya nikmati melalui susu Ultra pada waktu itu, atau pun pada saat menangis-nangis minta dibelikan baterai Duracell dan berharap mendapatkan mainak kelinci pink bermain drum, ternyata setelah terbeli baterai itu hanya baterai tidak disertakan kelinci, saya pun hanya terdiam bodoh. Oleh sebab itu saya sampai sekarang memiliki dendam akan kedua brand tersebut, atau mungkin orang iklan yang begitu kurang ajar, menyasar anak kecil yang polos seperti saya?ha ha ha…

Nah menuju lantai selanjutnya dan disuguhkan surga buku dengan bau-baunya yang khas. Sangat menyenangkan, dengan bau aroma yang mirip dengan cover plat. Andaikan toko plat sebesar ini pasti saya setiap hari ke toko itu, walaupun saat tidak punya duit dan hanya melihat-lihat. Terhenti di layar dan mengetikkan nama pengarang, alhasil juga tidak ada bukunya dengan stok habis. “Mencari buku lain saja!” pikir saya sembari berjalan dan memilihat-lihat rak-rak buku yang jika disela-selanya ada wanita cantik saya akan selalu mencuri-curi pandang. Berjalan-jalan dari satu rak ke rak lainnya, dan kali ini ada chart untuk buku laku, entah dari segi penjualan atau kontrak uang. Nomer satu buku bercover kartun orang kribo yang menurut saya sangat tidak penting! Banyak sekarang bermunculan cerita-cerita mengenai Lupus kualitas rendahan yang sangat dipaksakan terpampang di rak silih berganti, bahkan Lupus pun menurut saya sangat dipaksakan untuk terbit lagi dengan kisah barunya yang seharusnya sudah pensiun. Beralih ke jajaran novel, saya mencari novel yang hampir setipe dengan “Norwegian Wood”  Haruki Murakami, tetapi tetap tidak ada. Malah banyak judul atau setting berlatar-belakang Jepang atau pun Korea namun penulis dari negeri ini. Wah kenapa tidak menulis berlatar negeri ini saja! Tapi mata saya tertambat pada cover dua anak kecil sedang berkelahi. Pikir lagi untuk mengambilnya sembari berputar-putar dan mengamati sekitar, ada muda-mudi berpacaran sembari bermanjaan, sang gadis memegang buku Sherlock Holmes dan menerangkan ke pada prianya bahwa buku ini yang mempengaruhi komik detektif Conan dengan nada manja yang dibuat-buat. Saya pun sangat muak mendengarkannya.
Hingga akhirnya saya memutuskan membeli dua novel dan satu buku puisi titpan pacar. Hari itu merupakan rekor pembelian buku baru selama 23 tahun lebih ini. Biasanya uang habis untuk beli plat, tapi mungkin ini pembalasan dendam karena uang untuk membeli buku ini adalah hasil dari menjual beberapa plat. 🙂

BUKU

Ibu

Ibu berbicara kepadaku
Dengan badan tertegun lesu
dan uraian air mata, yang dalam

Ibu berbicara kepadaku
Tentang kesedihannya
Serta kaki yang mulai terluka sakit

Aku pun terdiam tidur
Mendengarkan Ibu meredakan susahnya

Ibu berbicara kepadaku
dengan nada terbata dan mimik teramat muram
Mengenai keluarga, bapak, adik dan aku

Ibu terus menahan tangis
dengan aku yang masih terdiam tidur

Ibu pun keluar dengan langkah nyerinya
Luka kaki kiri yang mengkuatirkan
Semoga lekas sembuh…
Sembari menutup pintu kamarku

dan memulai mencari tumpukan baju seragam adikku
terlihat setelah lampu terang…

Aku pun menangis
Menangis menahan tangis

 

London Calling: Hormat Saya Pada The Clash!

BGCguOpCAAAu6y0

 

 

Sabtu minggu lalu barang pesanan saya telah sampai di rumah, membuat perjalanan Jalan – Jalan Rock saya bersama Amang kurang khusyuk. Pesan singkat dari adik membuat sore hari saya hanya ingin memusatkan diri dalam ruang lingkup skala kecil.
Hari itu adalah agenda saya bersama Amang untuk membuat sebuah artikel yang entah kapan diterbitkan oleh majalah kampus. Baru setengah hari berjalan namun lelah sudah melanda. Senja telah memudar dan kami pun menuju ke Utara dengan peluh yang telah berubah menjadi kulit. Janji kami untuk bertemu narasumber lagi pada malamnya terpaksa dibatalkan.

Sampai lah kami di rumah, mata saya langsung tertuju pada bungkusan coklat yang terongkok pada kursi. Membukanya perlahan dan mengeluarkan dengan sangat hati-hati.
Piringan hitam The Clash London Calling pun sudah berputar dan membuat saya tersenyum-senyum tanpa henti dengan badan yang tidak mau terdiam barang sejenak. Amang pun heran, tapi tak apalah. Suatu kehormatan untuk mendengarkan double LP nya bersama, walaupun sempat terhenti karena laga antara Indonesia vs Arab Saudi.

Piringan hitam yang sangat berarti, terlebih juga karena bandnya. Ingatan saya pun tertuju saat kelas satu SMA, perjumpaan saya pertama kali dengan bentuk fisik album London Calling ini adalah saat teman saya titip dibelikan. Mungkin dia titip karena pada saat itu saya sering beli kaset atau cuma liat-liat di toko kaset Kotamas. Toko kaset yang memuaskan anak-anak setongkrongan saya saat SMA untuk bisa mendapatkan referensi band-band Punk, Hardcore, Metal. Terkadang bajakan, namun tetap saja terbeli. Harga satu kaset di toko tersebut dibandrol enam belas ribu rupiah. Cukup menguras uang saku buat saya pribadi. Kaset-kaset keren tersebut mendapati tempat khusus di bagian belakang toko dengan format kaset yang sama.

Perjumpaan yang sangat membuat saya jatuh cinta pada album The Clash London Calling ialah pada saat pacar membawakan CD album tersebut. CD yang ia dapatkan langsung dari Korea oleh-oleh dari kakaknya. Hal yang membuat saya tertarik adalah karena terdapat lirik pada album format CD tersebut. Saat hari-hari saya keranjingan selalu membolak-balik lirik tersebut, membaca, dan menyelaminya. Menyelami makna lirik tersebut melalui subjektivitas pribadi.

Track pertama kali yang membuat saya jatuh hati adalah London Calling, sebuah teriakan yang sangat athemic dan irama yang gelap tentang kehidupan pasca perang. “The ice age is coming, the sun zooming in. Engines stop running and the wheat is growing thin.”  Dan yang semakin menjauhkan saya akan The Beatles, mungkin karena liriknya yang berbunyi “All that phoney Beatlemania has bitten the dust.” saya pun mengamininya.
Album ini menyuguhkan Punk Rock, Reggae, Ska, Jazz yang dibalut dengan menyenangkan. Semakin terjerumus ketika masuk ke lagu The Guns of Brixton, kocokan irama gitar yang membuat tenang namun tetap saja terkesan gelap.

Dua track yang membuat saya merebahkan telinga dan pikiran saya akan The Clash, sehingga keseluruhan 19 track sering berputar tanpa putus. Mungkin hanya sebagian yang dapat saya jabarkan. Karena penjabaran akan semuanya, hanya akan membuat saya ngalor-ngidul mencari pemaknaan supaya terlihat akademis. Ini tulisan tentang album dan pengalaman saya terhadapnya. Keseluruhannya tersimpan dalam hati, agar anda yang membaca ini penasaran dan memcoba mengulik untuk pemaknaan keseluruhan album ini agar lebih pribadi.

Beruntung sekali saya mendapatkan piringan hitamnya dengan hasil kerja keras. Jika ditanya album apa yang mempengaruhi hidup saya? Saya akan menjawab salah satunya London Calling milik The Clash, album yang menjadi kiblat saya dalam bermusik. Lirik-liriknya yang menurut saya sangat dalam tentang merangkum fenomena kehidupan pada masanya yang hingga kini masih bisa dinikmati dengan bahasa yang puitis.

Yak! London Calling ada dan mewarnai kehidupan saya. 🙂

 

 

Lidah Kelu!

Setiap orang memiliki sosok atau pun sesuatu untuk diidolakan, sama halnya dengan saya. Ada baiknya kita kembali ke beberapa tahun yang lalu, tepatnya saya lupa. Ingatan yang mendalam ialah saat SMA kelas berapa ya? Duh, satu atau dua? Saya lupa!
Saat itu MTV masih ada di stasiun lokal dan saya amat gandrung di channel nomor 10 di televisi kamar. Ada dua band yang sedang dibahas di MTV What’s Up, satu The Brandals satunya lagi The Upstairs. Band terakhir sangat menggangu visual saya terutama baru ke indera pendengaran.
Pernah saya main ke rumah teman, dia memutarkan kaset pita The Upstairs yang tidak begitu saya gubris, hanya menirukan bass linenya yang setelahnya baru tau kalo lagu yang teman saya putar adalah “Antah Berantah.” Teman saya yang bernama Nanda itu punya koleksi  kaset yang lumayan komplit lah saat band-band indie (kata yang sering kali kami sebut) Jakarta mengusik gendang telinga minoritas remaja sebaya saya kala itu. Kenapa minoritas? Ya karena dikumpulan kami memang sangat sedikit yang mendengarkan band-band semacam itu. Ada tiga pilihan selera musik di tongkrongan kami: populer radio, musik barat dengan media kaset bajakan, dan musik indie. Oh untuk pilihan yang terakhir ini saya bingung membahasakannya karena sudah terbiasa. Baru saat awal-awal kuliah muncul pergolakan dari suatu kumpulan yang berusaha meluruskan, tapi entahlah… 🙂

Entah mengapa band yang semula tidak begitu saya gubris, malah sebagai soundtrack pagi hari saya, “Matraman” sebagai tembang pasti untuk memulai aktivitas dengan volume maksimal kencang-kencang! Ini saya alami saat kelas dua SMA.
Ketika di kelas itu juga saya bertemu anak pindahan dari Jakarta bernama Ian, berperawakan tinggi banyak gizi dan hobi bolos sekolah. Dia selalu menyanyikan sepenggal-penggal lirik bahasa Inggris “I love you so, i love you so….” Wah kelainan nih anak pikir saya. Ian gencar menyanyikan lagu tersebut beberapa hari setelah band saya memainkan tembang dari The Cure. Selidik punya selidik ternyata itu lagu The Upstairs yang berjudul “Mosque of Love” maklum pada waktu itu saya hanya memiliki album Energy.
Ian pun dengan sigap mengajak main ke kostnya dan berjanji akan meminjamkan kaset tersebut. Tapi yang terdapat di kamarnya hanya cover album Matraman tanpa kaset. Dia pun memberikan kepada saya, dan berjanji akan menyusul setelahnya kaset yang terkunci di kamar teman samping kostnya.
Setiap hari lirik tersebut saya bolak-balik dan mendapati kata-kata yang keren, hingga klip dari cover tersebut terlepas dan hanya cukup puas mendengarkan mp3 nya saja. 🙂

Jeda kenaikan kelas sekolah kami mengadakan acara band-bandan, disaat itu juga saya sedang kesengsem pada satu sosok wanita. Lah saat itu juga band saya main, dengan penuh pengorbanan anak-anak pada mau saya suruh mengcover lagu Mosque of Love tersebut. Sapa tau lagu itu tepat pada sasaran, dan ajaibnya wanita tadi tidak mendengarkan seraya ngobrol dengan seorang pria. Tapi tak apalah, yang pasti sekarang dia jadi pacar saya…hahaha
Oh ya, kenaikan kelas itu juga yang membuat Ian tiba-tiba menghilang! Baru dapat kontaknya lagi saat saya awal kuliah, dan kerennya lagi dia sudah berada di Australia, kuliah sembari kerja menjadi peracik kopi. Duh!

***

Tiga bulan yang lalu saya magang pada agensi iklan di Jakarta, bukan perkara mudah untuk menyesuaikan hidup, dari mulai rutinitas, tingkah laku, dan uang! Entah mengapa kehidupan sungguh sangat cepat dan melelahkan di kota sejuta hutan beton tersebut. Untungnya Dody, teman satu band dan juga satu kelas selama tiga tahun di SMA sering mengajak keluar di saat akhir pekan, ya lebih tepatnya sih saya sering menemani dia pacaran, tapi sumpah saya selalu bersikap baik dan sungguh tenang ketika pasangan tersebut dengan rajin mentraktir makan. 🙂
Minggu di puasa yang hari ke berapa saya lupa, kami bertiga janjian untuk jalan-jalan setelah misa pagi di Gereja. Tujuan yang pasti ke kota tua, harus menunggu Dody dan Lucy selesai misa dahulu untuk memulai perjalanan kami. Dahaga mencair dengan bubuhan susu perasa stroberi, hari itu juga kami naik bis Transjakarta dari Blok M.

Setelah selesai tamasya berfoto-ria kami pun balik menuju arah Blok M, saat turun dari bis saya pun nyletuk pada Dody, “Dod mampir Blok M Square ndelok-ndelok piringan hitam, sopo reti ketemu Denny Sakrie?” Ia pun mengiyakan, kami pun bertiga menuruni anak tangga untuk menuju basement. Tiba-tiba deg-degan saat ada sesosok pria yang tak asing berada beberapa meter dari saya. Saya pun menyuruh Dody mengambil foto, dengan sok-sok ngambil tanpa sengaja sembari memilih-milih piringan hitam. Tapi malah pria tersebut nyelonong pergi dan berpamitan pada temannya yang tak lain adalah Denny Sakrie, ramalan saya tepat! Duh, saya pun dengan langkah gontai namun pandangan sigap menuju kios om Ridwan dan segera membeli cd The Upstairs Energy. Pria tadi telah kembali di samping om Denny dan ada sesosok pria berada di belakangnya yang saya kenal dan kakak angkatan di kampus. Ya Siddha, entah mengapa ada juga di situ?! Tapi malah menjadi kian dekat dengan pria yang membuat gerak saya terbata pucat pasi dan gerakan lidah saya menjadi kelu. Siddha lalu membuka pembicaraan, “Jim, ini temen gue. Dia juga punya band di Jogja.” Wah seru! Akhirnya bertemu dengan sosok yang saya idolakan sejak pertengahan SMA. Lupa saya ngobrol apa dengan dia, mungkin karena grogi…

Ya, Jimi Multhazam pun pamit undur diri dengan perjumpaan yang sangat singkat, malah saya jadi ngobrol asyik dengan Denny Sakrie… Eh om Jim! Suatu saat kita ngobrol panjang lebar yuk? Dan semoga masih ingat saya.

nb: Oh ya, akhirnya saya mendapatkan kaset album Matraman dari Nanda Rahmadya teman kantor saya.hehe

Memori Remaja, Memori SMA

Bau hujan telah menggelayuti membasahi tanah-tanah merekah, terlihat hanya sebentar dan mendendam peluh lagi. Terantuk pada meja dan kursi teringat kisah beberapa hari lalu. Tepatnya Rabu saat saya disuruh pacar untuk ikutan kuis di tempatnya kerja. Hadiah pun terdapat saat malam menuju ke rumah Seno yang sudah tersungkur bahagia karena pendadarannya. Saya pun membawa anggur merah dan bir dingin yang saya beli di tempat berbeda karena selisih harga. Memacu dan sampai rumah sahabat saya ini sekitar pukul setengah sebelas malam. Kami pun bertukar kisah diiringi dengan turunnya alkohol sesi rendah itu ke kerongkongan yang kerontang. Tentang masa depan, keluarga, kuliah, pekerjaan, dan hawa. Ini perjamuan pertama setelah dua bulan kami berpisah, saya bergumul belajar dan mengasah mental di Ibukota dan ia menderas ilmunya dalam studio.
Perbincangan yang berbumbu tentang kenangan awal SMA kami saat mendengarkan dan berhuyung membeli kaset kualitas dua di Kotamas atau pun Ngejaman. Saya menyuruh dia untuk ikut kuis juga agar bisa menonton bersama dengan gratis, band yang lumayan mewarnai umur belasan tahun saya, band dari belahan dunia lain. Sebenarnya saya kurang begitu mengetahui band ini lebih dalam, namun demi memori belasan yang sangat bergejolak, saya pun dengan antusias mencari dua tiket untuk berangkat dengannya.

Kamis malam dengan udara yang meredam hawa panas saya pun menuju Geronimo untuk mendapatkan tiket kedua sembari melihat wawancara sosok yang masuk dalam telinga untuk satu lagunya yang tergiang-ngiang dan terlontar keluar mulut saat perjalanan. Sesampai di stasiun radio, Seno menghubungi lewat pesan singkat dan saya menjemputnya di rumah Cossa. Bolak-balik selama beberapa kali hingga malas melewati koboi kampung yang melegenda dengan kumpulan motornya barangkali santun. Hingga band itu datang dan Seno sudah berada di rumah Cossa lagi akan berperan menjadi pengujinya dengan Christo untuk bekal pendadaran siang esoknya.
Saya pun bersama pacar melihat wawancara, entah mengapa saya sudah berpacu lagi mencari vodka dengan Seno untuk manager band itu yang sudah mabuk akan alkohol berparuh tua.
Saat di rumah Seno malam larut yang dihabiskan dengan alkohol kemarin saya berpesan agar dibawakan kaset band tersebut, kaset terbengkalai saya kenang-kenangan Kotamas yang sangat melegenda. Tapi memang yang dibawakan Seno hanya kaset tanpa covernya, mungkin saya salah berpesan dan batal meminta tanda tangan dari satu personel asli, padahal inti dari ini ialah cover tersebut agar tersemat tinta.

Setelah saya berfoto dan pacar telah pulang, lanjut ke rumah Cossa untuk melihat pre-pendadaran yang santai diselingi gelak tawa berujung serius dengan pertanyaan dari Seno dan Christo, teman yang baru saya kenal saat itu juga saat senyum ramah selalu menghiasi wajahnya.
Banyak pertanyaan terlontar dari keduanya, saya pun sedikit bertanya tentang proses ticketing dalam konsep bangunan mengenai gedung pameran tersebut. Bercampur antara bercanda dan serius, saat selesai kami pun beranjak untuk pulang, Tiket juga sudah terdapat tinggal esok diambil saat jam kerja.

Siangnya saya ke kampus Teknik, hanya sekali menyebrang dari kampus saya. Pendadaran Cossa pun telah usai, dan kami berempat pun berbincang sembari merokok di depan auditorium.
Kami pun masuk ke auditorium melihat karya maket yang telah jadi, bertemu dengan kawan-kawan lain dan menunggu pengumuman nilai. Seno pun pulang untuk mengambil jas bersama Aming, menyebranglah saya ke kampus untuk ke mencoba toilet duduk yang berakhir kebingungan.
Saat melintas di kantin saya pun melihat segerombolan teman dan sedikit menghabiskan waktu dengan bermain kartu hingga menyebrang lagi dan melihat para mahasiswa yang telah lega berfoto-foto ria dengan hasil nilainya dalam pengumuman di dalam ruang dengan hasil lulus semua dari nilai A dan B tanpa nilai lain. Selamat ya teman-teman! ini pun berimbas pada perayaan alkohol seperti saat saya bertandang di rumah Seno namun dengan wadah plastik di tepi tribun lapangan voli yang bertanah. Entah berapa plastik cairan merah itu telah terhabiskan, saat saya dapat jatah dua tiket lagi dan mengambilnya dengan terjangan rintik hujan kecil bersama Roby ke Geronimo. Dua tiket itu untuk Roby dan Aming, rencana kami berempat yang berangkat dengan bantuan kertas ajaib menjadi penghantar pengganti tiket.
Minuman terakhir pun telah habis dan kami pun menyebar untuk bertemu nanti di sentra daerah hiburan Jalan Magelang. Sisa dari kami berempat entah setelah itu ke mana, namun yang pasti punya rencana sendiri.

Saya pun ke rumah mbah Hadi di Nologaten agar berangkat bersama dengan Seno dari sana. Seno diberi hadiah dari neneknya tersebut, saya pun asyik menyantap masakan yang disajikan mbah Hadi dengan kadar kesadaran setengah. Setelah itu berlanjut perjamuan di parkiran Amplaz dengan perut yang sudah tidak kuat dan candaan khas mas Yuli, paman dari teman saya ini yang bercerita dari hati kepada ponakannya.
Kami pun langsung lanjut ke acara dengan menyisakan setengah botol yang sudah tidak bersahabat. Di tengah jalan lebatnya tetesan air deras dari langit tak mengendurkan semangat saya untuk memacu mesin motor walau sedikit hilang nyaman karena saat sampai di tempat hujan berhenti dan air meresapi sandang saya dari atas hingga bawah tampak depan dan meleburkan rasa dingin yang semakin dalam.
Banyak ketemu teman lama dari yang masih sediakala hingga yang telah berubah frontal. Kami pun masuk dengan rombongan teman SMA hingga di dalam bertemu teman nongkrong saat di pinggir jalan C. Simanjuntak yang tepat di depan tempat bimbingan belajar pada dahulu. Memori masa lalu muncul dan memecah kerinduan dengan obrolan-obrolan ringan menyangkut kemarin dahulu dan sekarang.

Saat terjadi pukul-pukulan di dalam kamar mandi antara teman, yang jelas saya hanya menikmati acara, tujuan awal saya datang ke tempat tersebut. Saya merangsek ke depan saat band tersebut main dan terjun ke pusaran moshing pit yang telah lama tidak bersetubuh dengannya, hingga terengah-engah pada berpuluh menit awal. Kurang sekali gunjangan foreplay atau terlalu banyak menenggak alkohol. Masih larut akan suasana tersebut tiba-tiba Seno menarik baju saya dari tengah-tengah moshing pit yang asyik berpogo ria. Dia mengatakan bahwa di luar banyak polisi, dan mental diri saya tiba-tiba turun dan terus bertanya. Mary semoga hilang lepas bercinta dalam tubuh saya selama akhir pekan di beda tempat. Namun   semangat muncul lagi saat tempat dari The Blue Hearts “Linda Linda” dimainkan, terjun ke depan lagi dan mundur keluar saat “Punk Rawk Show” membahana!
Ternyata telah aman tidak ada kumpulan sampah berseragam di luar, saya pun berbincang dengan Seno hingga para penonton banyak yang ke luar. Pulang dan terjebak di rumah sakit, antara teman satu dan teman lainnya, antara korban dan pelaku secara tidak langsung, antara salah dan benar, antara sudahlah!! Niat saya bukan untuk menyaksikan perkelahian, kenapa suatu permasalahan tidak diselesaikan dengan kepala dingin. Tapi anak-anak lanjut meminum alkohol lokal dan kembali bercanda. Untuk kali ini saya tidak ikut minum, setelahnya saya mengantarkan Seno yang bersikap tenang dan dewasa selalu serasa akan jatuh pada boncengan saat terhenti di lampu merah, yang pasti karena pengaruh alkohol..hahaha

Terimakasih MxPx karena telah menghadirkan memori belasan saya, dan selamat buat sahabat saya yang hari itu juga menjadi sarjana! 🙂