Generasiku

Inilah generasiku
Generasi yang takut akan sinar matahari
Agar terlihat putih seperti orang mati

Inilah generasiku
Generasi yang membenci tv
Tapi sangat menyanjung MTV

Inilah generasiku
Generasi yang berdiam diri
Tunduk menyembah persegi

Inilah generasiku
Generasi berkelamin ganda
Suka berkebalikan peran dengan bangga

Inilah generasiku
Generasi penderas uang orang tua
Hingga batas waktu telat dewasa

Selamat datang orang baru
Salam manis buat para pendahulu
Inilah generasiku!

Advertisements

Lepas

Awalan bagi akhiran
Akhiran bagi awalan
Inilah sebuah perpisahan,
Aku tidak mau terantuk pada lingkaran setan!

Ibu

Ibu berbicara kepadaku
Dengan badan tertegun lesu
dan uraian air mata, yang dalam

Ibu berbicara kepadaku
Tentang kesedihannya
Serta kaki yang mulai terluka sakit

Aku pun terdiam tidur
Mendengarkan Ibu meredakan susahnya

Ibu berbicara kepadaku
dengan nada terbata dan mimik teramat muram
Mengenai keluarga, bapak, adik dan aku

Ibu terus menahan tangis
dengan aku yang masih terdiam tidur

Ibu pun keluar dengan langkah nyerinya
Luka kaki kiri yang mengkuatirkan
Semoga lekas sembuh…
Sembari menutup pintu kamarku

dan memulai mencari tumpukan baju seragam adikku
terlihat setelah lampu terang…

Aku pun menangis
Menangis menahan tangis

 

Peralihan

Berkelahi dengan waktu
Dengan temaram wajah biru luka ku
Maju menembus umur 23
Saat pilihan antara kesenangan atau kerja?

Hidup semakin tampak nyata
Mengais deras dari terbuka mata
Peras peluh selaku melacur
Hingga Sabtu-Minggu mencari penghibur

Suara keras keluar dari telinga
Biarkan rindu ini menganga
Titik temu bernaung akan tiba
Masih bertanya wahai jiwa dan raga

 

 

 

Bulir Lirih

Menggigil diremas jelaga merah
Terketuk buka pintu amarah
Hisapan rindu mendedas peluh
Tak ayal hanya tersentuh keluh

Kaki berangkat mengumbar nyali
Mata beringsut menderas hari
Berpijar surya kikiskan padam
Semoga terlihat asa terpendam

Langkah diri meredam perih
Angkat kepala menjauh lirih

Menanti bulan penuh berharap
Semoga saat bertemu bercumpu kalap
Menangkis segala hirup bulir
Seakan bagai insan yang baru terlahir

Langkah diri menghisap hati
Merekah erat terwujud mimpi

Transportasi Angka

Titik temu disini
Pada rempah penuh lagak
Cipratan sesal mata pulang
Remas penuh ampas solar
Membumbung tinggi mewarnai biru

Desiran gitar dengan tatap nanar mengantuk
emosi tanda jerit sudah pasti
Gertakan desing mesin berbunyi
Satu, dua, lalu seterusnya

Beragam warna, beragam rupa
Panas berpeluh hingga nanti
Terpaan angin menampar imaji
Terus laju, raung meraung!!
Suatu hari terhenti, saat diri terberkati

Janji: Untuk Yang Kedua Kali

Kita berdua kawan
Bertemu pada ketersengajaan
dengan wajah pipih dan bibir lepas 

Kau memberi ku banyak arti
dari awal terbentuk dewasa hingga kini
Menampar angin menembus pori-pori

Kita berdua kawan
Pernah suatu waktu saling diam
hingga diri ini penuh keterasingan
sepi…

Kita berdua kawan 
Saling memberi dan berbagi
Dua kepala yang sering berseberang
Namun merekah beri serta melengkapi

Memar tahapan hidup itu pasti
semakin berat…
Harus kita lalui

Waktu akan berganti
Menyatu bergabung dengan alam
Menapak di puncak tertinggi
merasakan angin menembus pori-pori 
sekali lagi… Engkau dan aku
Kita berdua kawan