Prakata: Permulaan dari Kuli Gastros

Selamat sore kawan sekalian, tidak hujan hari ini di daerah tempat saya tinggal. Sedang biasanya meluncur di dunia maya, membaca postingan tentang kuliner dan lalu pribadi saya terusik. Saya adalah pecinta makanan, sering juga mencoba memasak dengan resep buatan sendiri dan berhasil fatal. Hanya beberapa yang lumayan berhasil.
Oh ya di dalam kategori “Kuli Gastros” ini akan lebih membahas tentang semua hal tentang masakan dan pengalaman saya akan dunia tersebut, dari gastronomi yang artinya masih belum tau, belajar memasak, jajan, dan hal lain yang berhubungan dengan pemuas lidah. Semoga tulis pengalaman saya setelah ini tidak akan bercerita tentang masakan yang hanya enak saja seperti apa yang telah tersaji di televisi dan media lainnya. Tapi mencoba mengulas tentang beberapa hal yang saya jumpai entah itu enak atau tidak. Bukan hanya serapan sampah yang muncul karena membayar.
Mungkin dalam perjalanan nanti bakal banyak dibantu oleh pacar, karena kami sering menjelajah kuliner berdua dan membantu menulis andai saja?haha

Jika kalian bertanya apa itu Kuli Gastros? ya “Kuli” dari kata kuliner yang artinya beragam menurut apa yang anda maknai dan Gastros dari bahasa Yunani yang berarti perut. Dapat diartikan pemuas perut, kuli yang menjelajah makanan untuk memuaskan perut, atau apalah suka-suka 🙂

Banyak pengalaman sedari kecil yang muncul saat keluarga saya melancong untuk santap “jajan” karena pada masa itu kata “kuliner” belum terkenal seperti sekarang. Mungkin pada saat itu Pak Bondan Winarno masih sibuk di biro iklan ya sodara?
Tunggu postingan di ranah “Kuli Gastros” ini dari saya. Selamat sore,  Bon Appétit!!


Advertisements

Ikan kaleng itu bernama Sarden

Senin, 28 November 2011

Hari biasa tapi bedanya saya tidak perlu bangun pagi-pagi untuk bersiap-siap upacara bendera. Libur yang panjang, karena sekarang saya kuliah hanya Kamis dan Jumat itupun jam 5 sore. Bangun tidur entah mengapa badan saya lengket sekali, padahal malamnya setelah terguyur hujan saya sempatkan mandi. Mungkin karena bermalas-malas ria akhirnya pukul sepuluh lebih saya beranjak dari pembaringan. Itu pun karena sudah ingin sekali kencing, saya menahannya dari jam 8 tadi kalau tidak salah. Saya putuskan mandi dan tak lupa gosok gigi, padahal biasanya saya gosok gigi setelah makan. Perut kemudian keroncongan dan menuju ke warung, yah keluarga saya buka warung nasi rames dan juga soto, lotek, pecel, gado-gado. Lumayan komplitlah. Sebenarnya malas untuk makan tapi perut sudah tiada tahan. Mata saya tertuju pada sayur pepaya (buah pepaya muda), padahal saya tau itu sayur pepaya tetapi untuk memantapkannya saya bertanya kepada Bulek saya “Ini sayur jipang (labu siem) atau pepaya?” Bulek saya bersama Pak Mandor langganan warung pun serempak menjawab “Pepaya.” Duduklah saya di meja warung, pegawai warung saya yang kecil bertanya “Minum apa mas?” tapi sebelum menjawabnya saya bertanya lagi “Iki sayur opo to nok?” dan jawaban serupa saya dapatkan.
Setelah selesai makan dan menikmati es susu coklat saya kembali ke kamar dan melanjutkan film tadi malam yang belum rampung, yah ternyata sampai menit ke 30an film “The Invention of Lying” tersebut macet padahal CD nya lumayan kinclong. Alhasil saya lanjut ke disc 2. Film komedi ini bercerita tentang semua orang berkata jujur, bahkan Coca-Cola pada iklan televisinya tersebut menjelaskan bahwa hanya air gula dan para penonton harus terus membelinya. Konflik terjadi saat tokoh utama bisa berbohong dan dia adalah satu-satunya orang yang bisa berbohong di film tersebut selain anaknya tentunya.
Setelah selesai dengan film tersebut saya lanjut pada Zombieland, kata mas Dony film ini lucu, yah saya ambil. Menit-menit awal saya masih terbawa adegan kejujuran di film sebelumnya yang mana kemudian saya berpikir, mana ada zombie jujur, ngomong aja dia ga bisa..haha
Film yang lumayan menghibur terlebih Emma Stone yang lumayan menghibur saya 😀
Tanpa henti langsung lanjut ke film “Julie & Julia”  ini adalah film dua kisah berdasarkan kisah nyata, yang lumayan menyemangati saya untuk rajin nge-blog dan belajar masak. Alur yang loncat-loncat antara Julie dan Julia, dua tokoh yang beda masa. Julia Child adalah pengarang buku Mastering the Art of French Cooking yang sangat menginspirasi Julie Powell untuk menuntaskan 524 resep dibukunya dan memberi tenggat waktu pada pekerjaannya sendiri selama 365 hari. Dari situ Julie mulai tekun memasakan dan mengimplementasikan resep dari Julia Child sembari menuliskan kisahnya ke dalam blog yang kemudian dibukukan menjadi Julie & Julia: 356 Days, 524 Recipes, 1 Tiny Apartement Kitchen. Kisah keduanya sangat menginspirasi dan menurut saya film drama ini sangat layak tonton.

Sebelum film itu selesai saya mendadak sangat lapar entah karena efek film tersebut atau makan saya yang sedikit siang tadi. Saya memutuskan mem-pause player dvd dan berlanjut untuk menyiapkan makan.
Entah apa yang merasuki pikiran saya, ikan kaleng sangat meracuni otak saya. Dengan menerjang hujan yang lumayan deras saya berlari untuk membeli sarden di samping rumah. Oh iya saya baru ingat, kemarin saya mau beli disitu ternyata tidak ada. Sudah sampai di depan warung dengan bingung sedikit mondar-mandir dan ingin bergegas namun penjualnya telah melihat saya. Berbasa-basilah saya dengan bertanya “mas, sardennya sudah ada?” Padahal saya tau disitu tidak jual sarden. Alhasil harus beli diseberang jalan, wah yang membuat tidak enak lagi dia malah meminjamkan payungnya untuk saya. Setelah beli diseberang jalan dan mengembalikan payung ke mas Dadang, nama pemilik warung sebelah rumah saya. Saatnya memasak!!

Menyiapkan bumbu pendamping sarden, ini sebenarnya resep Bulek saya dan saya sedang menggilainya. Seminggu sudah 3 kali memasaknya, pertama terlalu manis, kedua pas, ketiga mari kita lihat hasilnya…..
Bawang merah, bawang putih, tomat, cabai, dan daun jeruk sudah tersedia. Sesuai selera sih, tetapi bagi saya jika untuk ukuran sarden abc kecil seharga Rp. 5.500,00 adalah sebagai berikut:

*Bawang merah 5 biji
*Bawang putih 5 biji
*Cabai rawit 5 biji atau lebih  sesuai selera
*Tomat 1 buah
*Daun jeruk 4 helai
*Gula Jawa 1 sendok teh
*Garam 1 sendok teh
*Penyedap rasa 1 sendok teh (ini sangat penting, karena dari namanya saja sudah menggambarkan rasanya..hehe)

Setelah mengiris-iris tipis namun tidak setipis pada film Goodfellas dan menanti minyak yang telah panas, kemudian masukan kedua jenis bawang dan cabai, diaduk-aduk biar tidak gosong sembari menunggu harum, lebih terasa jika menggunakan tangan langsung, niscaya akan melepuh.
Setelah harum masukkan sarden dan irisan tomat dan bumbu lainnya. Jika ingin tambah kuah, bekas kaleng tadi diisi air kemudian dicampur kedalam masakan tersebut..hmmm sudah tercium harumnya kan?
Pada masakan tadi saya lupa memasukkan daun jeruk pada saat penggorengan bumbu, akhirnya sebelum kuah mendidih saya masukkan denga saya hancurkan dengan jari jemari saya. Adalah fatal jika tanpa daun jeruk, dikarenakan daun tersebut sebagai pereduksi rasa dan bau amis ikan tersebut. Sambil menunggu air mendidih sebaiknya sembari mencicipi masakan tersebut apakah ada yang kurang, mungkin dengan nasi supaya kenyang. Juga lupa untuk meniup kuahnya pada saat mencicipi, karena yang terjadi pada saya selama ini seringkali lidah saya melepuh karena terlalu nafsu. Jika ingin mengental sebaiknya diaduk-aduk kembali dan menunggu dengan tingkat kekentalan sesuai selera, tapi tidak disarankan untuk lama-lama karena akan gosong dan harus memulai lagi. Jika ingin banyak kuah yah jangan menunggu lama-lama, saya pikir anda semua tau itu..hehehe
Selesai dan waktunya makan, sedikit menghiasi hasil akhir agar lahap makannya. Oh ya saya lupa, jika anda suka petai maka masukkan lah kedalam masakan seperti yang saya lakukan tadi tapi lupa saya tulis diatas.

Setelah puas menghilangkan rasa lapar dan hasil masakan yang enak (ini yang bilang Bulek saya lho) santai sejenak dan duduk-duduk di warung. Beberapa menit berselang ada mbak-mbak beli gado-gado, wah lumayan sedap dipandang nih..hihihi
Berlanjut membeli rokok di warung mas Dadang, kali ini pasti ada sambil menebus dosa. Setelahnya menyelesaikan film yang hanya tinggal beberapa menit, dan kembali menghidupkan laptop untuk menyapa teman nyata yang semakin menjadi maya.
Terima kasih buat Julie Powell dan Julia Child 🙂