Kipas – Gerah

Panas gerah, untuk kedua kalinya mandi untuk menghilangkan lengketnya bekas keringat lembab di tubuh. Kuping sebelah kiri tersumbat oleh air, namun cotton bud selalu membantu meredakannya. 

Bersantai ditemani kipas bambu dan kaos dalam putih kedodoran adalah pilihan yang bijak sembari berleha-leha. 

Atau mungkin menginjakkan kaki ke luar bermain dengan Kenji dan kawan-kawan, berpetualang, lalu mampir ke toko kelontong untuk membeli es loli. Membayangkan belut bakar, dan keramaian World Expo sepertinya cukup menarik juga.

Advertisements

Harlan itu Hidup

Mendengarkan Harlan adalah proses kontemplasi memaknai lebih dalam kehidupan. Kesederhanaan, kisah yang tidak dibuat-buat, mengaduk emosi. 

“Jangan keruhkan lagi suasana, dinginkan hati kompres kepala. Tak usah mengeluh pada matahari, di depan kaca kita ceria.” 

(Harlan – Dandan, 2013)

Nb: suatu saat akan saya ulas lebih mendalam. 😊

Anjangsana!

Revisi skripsi sudah saya kerjakan, nge-print berpuluh – puluh lembar lagi, membuang beberapa kertas lagi. Lalu lanjut mengumpulkan tumpukan kertas tersebut di loker dosen pembimbing saya, niat hati ingin sekalian bertemu tapi apa daya bersua pun tidak. Jam tiga sore sudah menjelang dan saya pun meringkuk di depan colokan listrik lobi kampus, masalah jamak jika punya ponsel pintar dengan keterbatasan pada baterai. Datang Dhila pacar sahabat saya yang juga baru saja mengumpulkan revisian dan ngobrol seputaran skripsi dan yudisium. Tiba – tiba ada nada dering berbunyi dari laci meja, alarm dari ponsel yang sejak tadi tiba di lobi terlihat tergeletak begitu saja namun tidak saya hiraukan. Maklum saya kira ponsel dummy, yang ternyata bukan. Akhirnya saya ambil dan mematikan alarmnya, dan melihat sekitar hanya tinggal saya dan Dhila yang sudah mau berpamitan untuk urusan pekerjaan yang ia tinggal. Sedikit bingung mendera, akhirnya saya kirim pesan pada daftar pertama sms terakhir di ponsel putih yang tertinggal tersebut. Lanjut ke depan ruang dosen lagi yang terdapat beberapa orang sedang antri menunggu dosen, saya tanya satu – persatu tidak ada yang merasa kehilangan ponsel. Beruntung di situ ada Haryo teman saya yang sedang bertengger di depan pintu ruang dosen. Saya mengatakan kepadanya bahwa barusan tadi menemukan ponsel putih. Ia pun mengecek foto – foto di dalamnya ponsel tersebut yang dari tadi tidak berani saya buka file-nya. Beranjaklah saya sejenak masuk ke ruang dosen memeriksa siapa tau dosen yang saya tunggu sudah datang, ternyata belum. Saat saya keluar Haryo sudah lenyap, orang – orang yang tadi ngantri pun tidak ada yang tau. Lumayan membuat saya panik dan mengelilingi seperempat bangunan kampus untuk mencarinya. Tidak ada!

Akhirnya sedikit menuruti insting saya menuju ke kantin Panorama di samping bangunan kampus. Ya karena kegiatan kampus sudah libur, pastilah ada anak –  anak di sana untuk sekedar ngobrol sembari minum kopi dan mengepulkan kretek. Ternyata dugaan saya benar! Muka –  muka yang tidak asing muncul juga, sedang asik di sana sekumpulan pemuda termasuk Haryo. Saya pun menemui dia, dan mendapatkan jawaban bahwa ia tau siapa pemilik ponsel putih tersebut. Sedikit menyempatkan ngobrol ngalor – ngidul dengan para teman, saya lanjut beranjak untuk menemui seseorang yang beberapa menit lalu saya kirimi pesan.

Menujulah saya ke dekat pusat kota, di sebuah kampung yang pada tahun ’80-an terkenal dengan daerah hitam. Tapi itu dulu, sekarang teramat nyaman dengan jalan masuk kampungnya yang meliuk – liuk.

Beberapa hari yang lalu saya sudah janji dengan Pak Koes, pedagang yang saya kenal di pasar sore. Kadang ia membawa kaset yang ajaib! Nah, tujuan saya untuk berburu kaset kali ini. Sampailah saya di rumahnya yang bercat putih bersih, semi bangunan Belanda jika dilihat dari pintu dan jendelanya yang berbahan jati. Dia menyalami saya dengan erat dan berterimakasih atas anjangsananya. Saya pun dipersilahkan duduk dengan nyaman, ia lalu mengeluarkan beberapa kaset. Namun di meja sudah ada kaset Metallica … And Justice for All, saya pun memilih satu – persatu beberapa kaset yang ia keluarkan. Ternyata pesanan saya belum ia dapatkan, karena negosiasi dengan kolektor pemilik kaset masih alot. Oh ya, perkenalan saya dengan Pak Koes sebenarnya sangat tidak sengaja, pada waktu itu saya sedang berburu dan di lapaknya ada empat kaset. Ia pun lantas bertanya “Mas, cari kaset pita po?”, nah saya yang sedang milih – milih kaset yang salah satunya The Who pun lalu menoleh dan langsung menjawab “nggih Dhe!” dengan nada semangat. Tiba – tiba ia mengeluarkan tas plastik merah dan mengeluarkan beberapa kaset dengan kondisi sangat mulus. Dia pun menjelaskan bahwa ini pesanan orang tapi tidak diambil, harga satuannya pun lima ribu rupiah. Saya pun memilih satu kaset Motorhead live at Brixton lisensi Metalizer, sialnya pas mau saya coba pita kaset itu putus terbakar. Kecewa pun mendera dan kaset itu tidak saya ambil, lalu saya menginfokan ke pedagang kaset langganan saya, yang dengan sigap ia ambil semua koleksi Pak Koes untuk direparasi untuk lanjut dijual lagi. Kaset Motorhead itu akhirnya dibeli teman saya dengan harga yang berubah tinggi dengan drastis.

Nah dikarenakan tau saya kecewa Pak Koes memberi tau bahwa di rumah masih punya beberapa koleksi. Namun ya itu tadi, ternyata koleksi kaset – kaset ajaib yang ia dapatkan kemarin sisanya masih belum deal. Alhasil saya pun memilih- milih kaset yang tersisa di rumahnya. Dua jam saya mencoba dan memilih kaset dengan walkman dan akhirnya tiga kaset saya ambil. Kebanyakan kasetnya yang ia keluarkan masih bagus, namun kadang isinya beda atau sudah terekam siaran radio. Hidangan nikmat kopi instan dengan nyamikan roti coklat keju pun menemani saya dalam memilih – milih koleksinya. Kemudian kami bercerita banyak hal, dari mulai kisah kampungnya yang sekarang hijau nyaman tentram, anaknya yang telah sukses bekerja di Bandung, tentang ia berdagang dahulu di berbagai pasar Klithikan (dahulu sebutan bekennya “Pasar Maling”, atau disingkat “Sarling” namun sekarang orang menyebutnya dengan Kithikan. Ini merujuk saat pedagang barang loak belum direlokasi dan menempati Jl. Mangkubumi) dan banyak saling silang tentang kisah kami berdua.

Processed with VSCOcam with t1 preset

Pak Koes sedang menyervis saklar listrik

Petang pun menjelang, saya pun pamit undur diri. Pak Koes pun juga akan berangkat jualan di pasar sore, namun sebelum saya pamit ia pun menawarkan kaset lagi untuk saya bawa pulang. “Dah dik mau mbawa kaset apa?”, saya pun mengambil tiga kaset: Duran – Duran, Ost. Pretty Woman, dan Frank Sinatra yang harus sedikit diservis. Saya pun bertanya berapa harga untuk keenam kaset tersebut, ia pun hanya memberi harga lima belas ribu. Berarti ia hanya memberi harga kaset pilihan pertama saya, sisanya sebagai bonus. Saya pun sangat berterimakasih dengan keramah – tamahan, suguhan yang nikmat, dan percakapan yang hangat. Ia pun mengulurkan tangan kembali, jabat tangannya masih sama, erat dan hangat. Terimakasih Pak Koes!

Processed with VSCOcam

Kaset yang saya ambil

nb: Terkadang hasil berburu koleksian tidak seperti yang saya harapkan, semisal harus mendapatkan kaset yang langka, lisensi lokal atau impor, atau bahkan rilisan yang memiliki harga mahal di pasaran. Celah – celah dari semua itu yang membuat saya akhirnya mendengarkan berbagai rilisan yang saya tidak tau, atau yang tadinya tidak ingin saya ketahui. Tapi yang terpenting seperti kata Pak Koes tadi “Anjangsana”  serta mendapatkan kenalan, kehangatan, keramah – tamahan, dan berbagai kisah lainnya.

Susu Ultra Coklat (Kenangan Kecil yang Lekat)

Sekitar pukul sepuluh saat saya sudah hampir usai memandikan Tengo, tiba – tiba Bapak memanggil nyaring nama saya dari lantai bawah. Sebuah kabar haru membahana tatkala ia menyampaikannya, pada saat itu saya menerimanya dengan setengah tidak percaya dan masih melanjutkan kegiatan bersama Tengo. Baru ketika Ibu saya sampai rumah sehabis belanja dan mendengarkan kabar tersebut, tangisan deras dengan nada kalut melandanya. Ya, Bapak mendapatkan kabar bahwa kakak Ibu meninggal. Ibu saya adalah anak nomor tiga dari tujuh bersaudara, sedangkan Pakde saya anak pertama. Pakde saya lahir pada 10 Agustus 1961 dengan nama lengkap Martinus Joko Prayitno, namun ia lebih sering dipanggil Agus atau hampir tiap orang yang saya kenal memanggilnya Pakde Gembil, termasuk saya tentunya. Nama sapaan itu didapatnya karena pada waktu mudanya doyan makan dan pipinya gembil.

Terakhir saya bertemu Pakde Mbil pada saat ia balik ke Jogja, dan tinggal di rumah saya sekitar dua tahun yang lalu. Pastinya ia ingin bertemu Prida, anak perempuannya yang tinggal bersama neneknya di Muntilan. Tubuhnya yang dahulu segar dan gemuk saat itu sudah tak terlihat, ia terlihat kurus dan terdapat beberapa bekas luka di kakinya. Pada saat itu ia sudah mengidap diabetes, penyakit turunan dari simbah putri saya. Bahkan karena penyakit tersebut, simbah putri saya hampir diamputasi kakinya, namun ia menolak dengan keras. Simbah putri meninggal sewaktu saya kelas 5 SD setelah sekian tahun mengidap diabetes.
Perjumpaan singkat dan obrolan yang kurang begitu mendalam akhirnya terpisahkan jua. Ia juga harus balik ke Nabire dengan menunggangi kapal untuk kembali bekerja serta bertemu Istri dan anak keduanya, anak lelaki yang hingga saat ini saya belum bertemu.

Sore hari setelah Ibu dan keluarga besarnya kembali dari Muntilan untuk sembahyangan, akhirnya kedua belah pihak keluarga menerima keputusan dari istri Pakde Mbil di Nabire. Pakde akan dikebumikan di sana pada hari Selasa, di tanah Nabire yang dijadikan akhirnya kisahnya. Akhir kisah yang meninggalkan Prida, Bude Tyas, si jagoan kecil, keluarga besar kami, dan kenangan saya dengannya yang selalu saya ingat. Saya meningingat Pakde saya yang selalu sumeh, murah senyum pada siapa pun. Pakde yang kadang mengganti kata Aku – Kamu, dengan saya dan situ. Pakde yang mencintai TVRI dan siaran lokal mBangun Desa, saat ia ditanya kenapa sangat mencintai TVRI jawabannya “Kasihan, ga ada yang nonton.” Pakde saya yang selalu menghabiskan makanan dari keponakannya jika sudah penuh sesak, ia pun tidak pernah mengeluh kekenyangan, seperti saat waktu saya kecil, kami sekeluarga besar makan nasi goreng babi di tempat Pak Tedjo pasar Beringharjo, “De, dah kenyang banget ga abis ini, entekke yo De? “Jawabnya selalu “Yoh, yoh.” dengan muka lucunya. Pakde saya yang selalu mengendong saya di pundaknya saat akan menuju lapangan untuk menyaksikan sepakbola, dan membelikan sekotak susu Ultra Coklat yang sangat nikmat. Selamat jalan Pakde Mbil…Tuhan sertamu.

pakde mbilDewo (anak Mbak Lies yang merawat Simbah Putri), Saya, Pakde Agus
Foto diambil saat ulang tahun saya yang ke enam di Kyai Langgeng, Magelang.

 

#listening Radiohead – No Surprises

Perpustakaan dan Toko Buku

Pikiran berat akan beban di saat bangun siang, yak! Itu terulang-ulang terus. Setelahnya mandi lalu menyiapkan kemeja hijau yang selalu tergantung di lemari, kemeja bapak yang sekarang menjadi baju resmi saya. Sudah jam satu siang saat saya bergegas untuk sarapan dengan sop rolade yang dibuat oleh ibu, menu favorit saya semasa kecil, tapi akhir-akhir ini masih susah makan karena minggu lalu terserang asam lambung yang dahsyat seperti tilas makan tape saat sendawa. Akhirnya makan juga, serta sejenak membaca dua koran lokal seharga masing-masing seribu dengan penuh kesenyapan. Entah mengapa saya sebenarnya membenci dua koran itu karena beritanya selalu sama dan cenderung tidak dalam, tetapi tetap saja jika sarapan kedua koran tersebut selalu menemani dengan aromanya yang khas dan tata letak iklan yang suram.
Bergegas ke kampus namun sebelumnya mampir ke rumah Edo untuk menagih uang kepada Bayu, karena kami berdua memesan plat 7″ Seringai dan saya telah mentransfer uangnya semalam dengan mahar dua ratus ribu berdua, harga ekonomis untuk saya yang sangat kesusahan uang minggu ini. Sebenarnya saya kurang suka band itu, tapi adik katanya suka, maka terbelilah plat dua lagu tersebut. Uang tersebut saya kirim ke Jakarta dengan bantuan atm di dekat rumah, saya mengajak adik dengan membonceng agar tidak harus membayar parkir karena dia menunggu di motor. Tapi ternyata tetap harus membayar pajak, tak apalah sembari dongkol karena motor dijaga sendiri masih harus bayar.
Di rumah Edo berkumpul beberapa orang, Bayu pun menyerahkan seratus ribu dari dalam dompetnya yang hitam kulit sembari bertanya kapan plat itu datang, saya pun menjawab dengan ketidaktahuan. Selesai satu batang rokok saya pun menuju kampus.

Berada di perpustakaan dan mencari judul buku di raknya melalui komputer, masih tidak ada. Akhirnya saya pun mecari buku yang berhubungan dengan etnografi, karena menurut bu guru dosen bimbingan saya, skripsi saya cocok akan itu tapi tetap masih meneliti fenomena plat piringan hitam. Ada dua buku yang akhirnya saya pinjam, satunya berbahasa Inggris – satunya yang pasti Indonesia yang paling-paling susah dimengerti daripada tulisan berputar Sindhunata sekalipun. Buku yang bisa saya pinjam sampai 28 Mei, karena saya telah menggurus izin mahasiswa yang telah skripsi, “Seharusnya dua tahun yang lalu” Batin saya dalam pikir.
Menuju ke kantin setelah mengembalikan kunci loker penitipan tas nomer 211, kantin sepi dengan manusia yang saya kenal, hanya beberapa dan saling sapa dengan teman. Saya pun memilih meja sepi dan duduk sendiri, menyalakan laptop dan membuka dagangan plat online saya yang belum ada komentar, mungkin terlalu mahal. Setelahnya mencari judul dua buku Amalia E Maulana yang kelihatannya mempunyai kontak batin pada dosen pembimbing saya. Ini seperti kasus semestar satu atau dua saya lupa, dimana saat itu mahasiswa di kelas disuruh untuk meneliti “Pengakuan Pariyem” alhasil dosen itu ampuh benar untuk menyuruh anak didiknya meminjam di perpustakaan yang nyatanya kosong, kami pun akhirnya mengeluarkan uang lagi! Uang orang tua kami. Saya pun membenci sekali apa yang dikatakan universitas sebagai perpustakaan kalau saja koleksi bukunya sangat sedikit dan sangatlah tidak terawat. Yah pertama petugas perpustakaannya malas untuk merawat, kedua ya karena mahasiswanya kurang ajar tidak merawat buku dengan semestinya! Buku pun sangat sedikit nyaris tidak ada di perpustakaan, setelah dari kampus saya pun berencana keliling toko buku untuk membelinya, jika boleh meminjam atau memfotokopinya itu lebih baik!

Pertama yang saya datangi ialah toko buku dekat musium pelukis kenamaan yang mirip Albert Einstein itu. Saya selalu tidak nyaman jika masuk toko itu, suasananya jauh seperti toko buku. Jika penggambaran dalam novel grafis pastilah perpaduan warna hijau – coklat – hitam yang gelap. Saya pun bertanya pada pegawai toko akan buku Consumer Insight dari bu Amalia, di dalam komputer dia pun mengatakan ada dalam daftar, dalam hati pun saya senang. Tapi ketika dicari di rak bukunya kosong, lemas jadinya.
Antara kecewa dan senang saya bisa menuju untuk mengakhiri penderitaan toko buku yang kebanyakan memajang buku berhuruf timur-tengah tersebut, dengan mata saya sebelumnya tertuju pada seorang pria berambut keriting panjang membawa daftar panjang kertas nota dari komputer toko sembari menenteng banyak buku. Duh! calon menteri pikir saya, yang semoga tidak mejadi kerah putih yang korupsi.  Mengambil tas dengan ketidaknyaman yang ditunjukkan oleh penjaganya merangkap satpam dengan badan legam hitam. Inilah toko buku diskon yang selalu tidak akan saya datangi jika tidak kepepet, karena suasana dan lain lain lainnya.

Kemudian berlanjut ke toko buku di tingkat dua seberang bioskop yang sekarang tiketnya naik sepuluh ribu, karena tidak tau mungkin karena harga minyak yang melimpah ruah di negeri ini akan naik. Baru saya memarkir, meletakkan ikatan helm setelah turun motor menengadah ke atas, kok berganti menjadi pusat jualan hape. Saya pun bertanya pada pakdhe tukang parkir, yang menjawab bahwa toko buku itu telah pindah di Kota Baru. Pikir saya yang di daerah itu cabang baru, ternyata pindahan, dengan polosnya saya pamit dengan tukang parkir tadi dan menuju ke toko buku pindahan tersebut…Ngennnng!

Sesampainya di toko buku, judul yang saya cari lagi-lagi tidak ada. Yah banyak sekali jika mau mencari buku twitter, kata-kata dari twitter dibukukan yang sangat tidak penting menurut saya. Tapi saya lumayan menyukai toko buku ini, walaupun tokonya kecil tapi bukunya tidak ada! Tetap saja kecewa dan memutuskan menuju utara sedikit menuju toko buku favorit saya, yang tidak pernah memberi diskon harian seperti kedua toko tadi, tetapi saya sangat suka berada di toko itu dan selalu saja ada kisah.
Toko buku ini sekarang tidak ada ritual penitipan barang, hal yang saya rindukan jika di toko buku. Karena saya bukan pencuri, kenapa harus menitipkan barang! Dengan menggendong tas berisi laptop dan dua buku yang tadi dipinjam pada perpus saya masuk toko tersebut. Pertama ritual di toko itu saya selalu menyempatkan menuju penjualan cd, ternyata tidak ada yang baru. Dan mungkin ketertarikan saya akan cd semakin berkurang, setelah terlalu dalam terjerumus dan berteman dengan plat. Naik satu lantai, saya disuguhkan mainan rakit-merakit untuk menjadi suatu kendaraan, hanya tertarik saja dan tidak kuat membeli. Karena sebelumnya pernah membeli yang boks kecil dengan harga murah, ternyata isinya kecil sekali. Ternyata gambar dan kemasan sangatlah menipu. Seperti saat kecil saya sangat sakit hati dan tertipu rayuan maut Corn Flakes yang ternyata tidak ada buah stroberi di dalam kemasan, buah yang hanya bisa saya nikmati melalui susu Ultra pada waktu itu, atau pun pada saat menangis-nangis minta dibelikan baterai Duracell dan berharap mendapatkan mainak kelinci pink bermain drum, ternyata setelah terbeli baterai itu hanya baterai tidak disertakan kelinci, saya pun hanya terdiam bodoh. Oleh sebab itu saya sampai sekarang memiliki dendam akan kedua brand tersebut, atau mungkin orang iklan yang begitu kurang ajar, menyasar anak kecil yang polos seperti saya?ha ha ha…

Nah menuju lantai selanjutnya dan disuguhkan surga buku dengan bau-baunya yang khas. Sangat menyenangkan, dengan bau aroma yang mirip dengan cover plat. Andaikan toko plat sebesar ini pasti saya setiap hari ke toko itu, walaupun saat tidak punya duit dan hanya melihat-lihat. Terhenti di layar dan mengetikkan nama pengarang, alhasil juga tidak ada bukunya dengan stok habis. “Mencari buku lain saja!” pikir saya sembari berjalan dan memilihat-lihat rak-rak buku yang jika disela-selanya ada wanita cantik saya akan selalu mencuri-curi pandang. Berjalan-jalan dari satu rak ke rak lainnya, dan kali ini ada chart untuk buku laku, entah dari segi penjualan atau kontrak uang. Nomer satu buku bercover kartun orang kribo yang menurut saya sangat tidak penting! Banyak sekarang bermunculan cerita-cerita mengenai Lupus kualitas rendahan yang sangat dipaksakan terpampang di rak silih berganti, bahkan Lupus pun menurut saya sangat dipaksakan untuk terbit lagi dengan kisah barunya yang seharusnya sudah pensiun. Beralih ke jajaran novel, saya mencari novel yang hampir setipe dengan “Norwegian Wood”  Haruki Murakami, tetapi tetap tidak ada. Malah banyak judul atau setting berlatar-belakang Jepang atau pun Korea namun penulis dari negeri ini. Wah kenapa tidak menulis berlatar negeri ini saja! Tapi mata saya tertambat pada cover dua anak kecil sedang berkelahi. Pikir lagi untuk mengambilnya sembari berputar-putar dan mengamati sekitar, ada muda-mudi berpacaran sembari bermanjaan, sang gadis memegang buku Sherlock Holmes dan menerangkan ke pada prianya bahwa buku ini yang mempengaruhi komik detektif Conan dengan nada manja yang dibuat-buat. Saya pun sangat muak mendengarkannya.
Hingga akhirnya saya memutuskan membeli dua novel dan satu buku puisi titpan pacar. Hari itu merupakan rekor pembelian buku baru selama 23 tahun lebih ini. Biasanya uang habis untuk beli plat, tapi mungkin ini pembalasan dendam karena uang untuk membeli buku ini adalah hasil dari menjual beberapa plat. 🙂

BUKU

London Calling: Hormat Saya Pada The Clash!

BGCguOpCAAAu6y0

 

 

Sabtu minggu lalu barang pesanan saya telah sampai di rumah, membuat perjalanan Jalan – Jalan Rock saya bersama Amang kurang khusyuk. Pesan singkat dari adik membuat sore hari saya hanya ingin memusatkan diri dalam ruang lingkup skala kecil.
Hari itu adalah agenda saya bersama Amang untuk membuat sebuah artikel yang entah kapan diterbitkan oleh majalah kampus. Baru setengah hari berjalan namun lelah sudah melanda. Senja telah memudar dan kami pun menuju ke Utara dengan peluh yang telah berubah menjadi kulit. Janji kami untuk bertemu narasumber lagi pada malamnya terpaksa dibatalkan.

Sampai lah kami di rumah, mata saya langsung tertuju pada bungkusan coklat yang terongkok pada kursi. Membukanya perlahan dan mengeluarkan dengan sangat hati-hati.
Piringan hitam The Clash London Calling pun sudah berputar dan membuat saya tersenyum-senyum tanpa henti dengan badan yang tidak mau terdiam barang sejenak. Amang pun heran, tapi tak apalah. Suatu kehormatan untuk mendengarkan double LP nya bersama, walaupun sempat terhenti karena laga antara Indonesia vs Arab Saudi.

Piringan hitam yang sangat berarti, terlebih juga karena bandnya. Ingatan saya pun tertuju saat kelas satu SMA, perjumpaan saya pertama kali dengan bentuk fisik album London Calling ini adalah saat teman saya titip dibelikan. Mungkin dia titip karena pada saat itu saya sering beli kaset atau cuma liat-liat di toko kaset Kotamas. Toko kaset yang memuaskan anak-anak setongkrongan saya saat SMA untuk bisa mendapatkan referensi band-band Punk, Hardcore, Metal. Terkadang bajakan, namun tetap saja terbeli. Harga satu kaset di toko tersebut dibandrol enam belas ribu rupiah. Cukup menguras uang saku buat saya pribadi. Kaset-kaset keren tersebut mendapati tempat khusus di bagian belakang toko dengan format kaset yang sama.

Perjumpaan yang sangat membuat saya jatuh cinta pada album The Clash London Calling ialah pada saat pacar membawakan CD album tersebut. CD yang ia dapatkan langsung dari Korea oleh-oleh dari kakaknya. Hal yang membuat saya tertarik adalah karena terdapat lirik pada album format CD tersebut. Saat hari-hari saya keranjingan selalu membolak-balik lirik tersebut, membaca, dan menyelaminya. Menyelami makna lirik tersebut melalui subjektivitas pribadi.

Track pertama kali yang membuat saya jatuh hati adalah London Calling, sebuah teriakan yang sangat athemic dan irama yang gelap tentang kehidupan pasca perang. “The ice age is coming, the sun zooming in. Engines stop running and the wheat is growing thin.”  Dan yang semakin menjauhkan saya akan The Beatles, mungkin karena liriknya yang berbunyi “All that phoney Beatlemania has bitten the dust.” saya pun mengamininya.
Album ini menyuguhkan Punk Rock, Reggae, Ska, Jazz yang dibalut dengan menyenangkan. Semakin terjerumus ketika masuk ke lagu The Guns of Brixton, kocokan irama gitar yang membuat tenang namun tetap saja terkesan gelap.

Dua track yang membuat saya merebahkan telinga dan pikiran saya akan The Clash, sehingga keseluruhan 19 track sering berputar tanpa putus. Mungkin hanya sebagian yang dapat saya jabarkan. Karena penjabaran akan semuanya, hanya akan membuat saya ngalor-ngidul mencari pemaknaan supaya terlihat akademis. Ini tulisan tentang album dan pengalaman saya terhadapnya. Keseluruhannya tersimpan dalam hati, agar anda yang membaca ini penasaran dan memcoba mengulik untuk pemaknaan keseluruhan album ini agar lebih pribadi.

Beruntung sekali saya mendapatkan piringan hitamnya dengan hasil kerja keras. Jika ditanya album apa yang mempengaruhi hidup saya? Saya akan menjawab salah satunya London Calling milik The Clash, album yang menjadi kiblat saya dalam bermusik. Lirik-liriknya yang menurut saya sangat dalam tentang merangkum fenomena kehidupan pada masanya yang hingga kini masih bisa dinikmati dengan bahasa yang puitis.

Yak! London Calling ada dan mewarnai kehidupan saya. 🙂

 

 

Lidah Kelu!

Setiap orang memiliki sosok atau pun sesuatu untuk diidolakan, sama halnya dengan saya. Ada baiknya kita kembali ke beberapa tahun yang lalu, tepatnya saya lupa. Ingatan yang mendalam ialah saat SMA kelas berapa ya? Duh, satu atau dua? Saya lupa!
Saat itu MTV masih ada di stasiun lokal dan saya amat gandrung di channel nomor 10 di televisi kamar. Ada dua band yang sedang dibahas di MTV What’s Up, satu The Brandals satunya lagi The Upstairs. Band terakhir sangat menggangu visual saya terutama baru ke indera pendengaran.
Pernah saya main ke rumah teman, dia memutarkan kaset pita The Upstairs yang tidak begitu saya gubris, hanya menirukan bass linenya yang setelahnya baru tau kalo lagu yang teman saya putar adalah “Antah Berantah.” Teman saya yang bernama Nanda itu punya koleksi  kaset yang lumayan komplit lah saat band-band indie (kata yang sering kali kami sebut) Jakarta mengusik gendang telinga minoritas remaja sebaya saya kala itu. Kenapa minoritas? Ya karena dikumpulan kami memang sangat sedikit yang mendengarkan band-band semacam itu. Ada tiga pilihan selera musik di tongkrongan kami: populer radio, musik barat dengan media kaset bajakan, dan musik indie. Oh untuk pilihan yang terakhir ini saya bingung membahasakannya karena sudah terbiasa. Baru saat awal-awal kuliah muncul pergolakan dari suatu kumpulan yang berusaha meluruskan, tapi entahlah… 🙂

Entah mengapa band yang semula tidak begitu saya gubris, malah sebagai soundtrack pagi hari saya, “Matraman” sebagai tembang pasti untuk memulai aktivitas dengan volume maksimal kencang-kencang! Ini saya alami saat kelas dua SMA.
Ketika di kelas itu juga saya bertemu anak pindahan dari Jakarta bernama Ian, berperawakan tinggi banyak gizi dan hobi bolos sekolah. Dia selalu menyanyikan sepenggal-penggal lirik bahasa Inggris “I love you so, i love you so….” Wah kelainan nih anak pikir saya. Ian gencar menyanyikan lagu tersebut beberapa hari setelah band saya memainkan tembang dari The Cure. Selidik punya selidik ternyata itu lagu The Upstairs yang berjudul “Mosque of Love” maklum pada waktu itu saya hanya memiliki album Energy.
Ian pun dengan sigap mengajak main ke kostnya dan berjanji akan meminjamkan kaset tersebut. Tapi yang terdapat di kamarnya hanya cover album Matraman tanpa kaset. Dia pun memberikan kepada saya, dan berjanji akan menyusul setelahnya kaset yang terkunci di kamar teman samping kostnya.
Setiap hari lirik tersebut saya bolak-balik dan mendapati kata-kata yang keren, hingga klip dari cover tersebut terlepas dan hanya cukup puas mendengarkan mp3 nya saja. 🙂

Jeda kenaikan kelas sekolah kami mengadakan acara band-bandan, disaat itu juga saya sedang kesengsem pada satu sosok wanita. Lah saat itu juga band saya main, dengan penuh pengorbanan anak-anak pada mau saya suruh mengcover lagu Mosque of Love tersebut. Sapa tau lagu itu tepat pada sasaran, dan ajaibnya wanita tadi tidak mendengarkan seraya ngobrol dengan seorang pria. Tapi tak apalah, yang pasti sekarang dia jadi pacar saya…hahaha
Oh ya, kenaikan kelas itu juga yang membuat Ian tiba-tiba menghilang! Baru dapat kontaknya lagi saat saya awal kuliah, dan kerennya lagi dia sudah berada di Australia, kuliah sembari kerja menjadi peracik kopi. Duh!

***

Tiga bulan yang lalu saya magang pada agensi iklan di Jakarta, bukan perkara mudah untuk menyesuaikan hidup, dari mulai rutinitas, tingkah laku, dan uang! Entah mengapa kehidupan sungguh sangat cepat dan melelahkan di kota sejuta hutan beton tersebut. Untungnya Dody, teman satu band dan juga satu kelas selama tiga tahun di SMA sering mengajak keluar di saat akhir pekan, ya lebih tepatnya sih saya sering menemani dia pacaran, tapi sumpah saya selalu bersikap baik dan sungguh tenang ketika pasangan tersebut dengan rajin mentraktir makan. 🙂
Minggu di puasa yang hari ke berapa saya lupa, kami bertiga janjian untuk jalan-jalan setelah misa pagi di Gereja. Tujuan yang pasti ke kota tua, harus menunggu Dody dan Lucy selesai misa dahulu untuk memulai perjalanan kami. Dahaga mencair dengan bubuhan susu perasa stroberi, hari itu juga kami naik bis Transjakarta dari Blok M.

Setelah selesai tamasya berfoto-ria kami pun balik menuju arah Blok M, saat turun dari bis saya pun nyletuk pada Dody, “Dod mampir Blok M Square ndelok-ndelok piringan hitam, sopo reti ketemu Denny Sakrie?” Ia pun mengiyakan, kami pun bertiga menuruni anak tangga untuk menuju basement. Tiba-tiba deg-degan saat ada sesosok pria yang tak asing berada beberapa meter dari saya. Saya pun menyuruh Dody mengambil foto, dengan sok-sok ngambil tanpa sengaja sembari memilih-milih piringan hitam. Tapi malah pria tersebut nyelonong pergi dan berpamitan pada temannya yang tak lain adalah Denny Sakrie, ramalan saya tepat! Duh, saya pun dengan langkah gontai namun pandangan sigap menuju kios om Ridwan dan segera membeli cd The Upstairs Energy. Pria tadi telah kembali di samping om Denny dan ada sesosok pria berada di belakangnya yang saya kenal dan kakak angkatan di kampus. Ya Siddha, entah mengapa ada juga di situ?! Tapi malah menjadi kian dekat dengan pria yang membuat gerak saya terbata pucat pasi dan gerakan lidah saya menjadi kelu. Siddha lalu membuka pembicaraan, “Jim, ini temen gue. Dia juga punya band di Jogja.” Wah seru! Akhirnya bertemu dengan sosok yang saya idolakan sejak pertengahan SMA. Lupa saya ngobrol apa dengan dia, mungkin karena grogi…

Ya, Jimi Multhazam pun pamit undur diri dengan perjumpaan yang sangat singkat, malah saya jadi ngobrol asyik dengan Denny Sakrie… Eh om Jim! Suatu saat kita ngobrol panjang lebar yuk? Dan semoga masih ingat saya.

nb: Oh ya, akhirnya saya mendapatkan kaset album Matraman dari Nanda Rahmadya teman kantor saya.hehe