Susu Ultra Coklat (Kenangan Kecil yang Lekat)

Sekitar pukul sepuluh saat saya sudah hampir usai memandikan Tengo, tiba – tiba Bapak memanggil nyaring nama saya dari lantai bawah. Sebuah kabar haru membahana tatkala ia menyampaikannya, pada saat itu saya menerimanya dengan setengah tidak percaya dan masih melanjutkan kegiatan bersama Tengo. Baru ketika Ibu saya sampai rumah sehabis belanja dan mendengarkan kabar tersebut, tangisan deras dengan nada kalut melandanya. Ya, Bapak mendapatkan kabar bahwa kakak Ibu meninggal. Ibu saya adalah anak nomor tiga dari tujuh bersaudara, sedangkan Pakde saya anak pertama. Pakde saya lahir pada 10 Agustus 1961 dengan nama lengkap Martinus Joko Prayitno, namun ia lebih sering dipanggil Agus atau hampir tiap orang yang saya kenal memanggilnya Pakde Gembil, termasuk saya tentunya. Nama sapaan itu didapatnya karena pada waktu mudanya doyan makan dan pipinya gembil.

Terakhir saya bertemu Pakde Mbil pada saat ia balik ke Jogja, dan tinggal di rumah saya sekitar dua tahun yang lalu. Pastinya ia ingin bertemu Prida, anak perempuannya yang tinggal bersama neneknya di Muntilan. Tubuhnya yang dahulu segar dan gemuk saat itu sudah tak terlihat, ia terlihat kurus dan terdapat beberapa bekas luka di kakinya. Pada saat itu ia sudah mengidap diabetes, penyakit turunan dari simbah putri saya. Bahkan karena penyakit tersebut, simbah putri saya hampir diamputasi kakinya, namun ia menolak dengan keras. Simbah putri meninggal sewaktu saya kelas 5 SD setelah sekian tahun mengidap diabetes.
Perjumpaan singkat dan obrolan yang kurang begitu mendalam akhirnya terpisahkan jua. Ia juga harus balik ke Nabire dengan menunggangi kapal untuk kembali bekerja serta bertemu Istri dan anak keduanya, anak lelaki yang hingga saat ini saya belum bertemu.

Sore hari setelah Ibu dan keluarga besarnya kembali dari Muntilan untuk sembahyangan, akhirnya kedua belah pihak keluarga menerima keputusan dari istri Pakde Mbil di Nabire. Pakde akan dikebumikan di sana pada hari Selasa, di tanah Nabire yang dijadikan akhirnya kisahnya. Akhir kisah yang meninggalkan Prida, Bude Tyas, si jagoan kecil, keluarga besar kami, dan kenangan saya dengannya yang selalu saya ingat. Saya meningingat Pakde saya yang selalu sumeh, murah senyum pada siapa pun. Pakde yang kadang mengganti kata Aku – Kamu, dengan saya dan situ. Pakde yang mencintai TVRI dan siaran lokal mBangun Desa, saat ia ditanya kenapa sangat mencintai TVRI jawabannya “Kasihan, ga ada yang nonton.” Pakde saya yang selalu menghabiskan makanan dari keponakannya jika sudah penuh sesak, ia pun tidak pernah mengeluh kekenyangan, seperti saat waktu saya kecil, kami sekeluarga besar makan nasi goreng babi di tempat Pak Tedjo pasar Beringharjo, “De, dah kenyang banget ga abis ini, entekke yo De? “Jawabnya selalu “Yoh, yoh.” dengan muka lucunya. Pakde saya yang selalu mengendong saya di pundaknya saat akan menuju lapangan untuk menyaksikan sepakbola, dan membelikan sekotak susu Ultra Coklat yang sangat nikmat. Selamat jalan Pakde Mbil…Tuhan sertamu.

pakde mbilDewo (anak Mbak Lies yang merawat Simbah Putri), Saya, Pakde Agus
Foto diambil saat ulang tahun saya yang ke enam di Kyai Langgeng, Magelang.

 

#listening Radiohead – No Surprises

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: