Kipas – Gerah

Panas gerah, untuk kedua kalinya mandi untuk menghilangkan lengketnya bekas keringat lembab di tubuh. Kuping sebelah kiri tersumbat oleh air, namun cotton bud selalu membantu meredakannya. 

Bersantai ditemani kipas bambu dan kaos dalam putih kedodoran adalah pilihan yang bijak sembari berleha-leha. 

Atau mungkin menginjakkan kaki ke luar bermain dengan Kenji dan kawan-kawan, berpetualang, lalu mampir ke toko kelontong untuk membeli es loli. Membayangkan belut bakar, dan keramaian World Expo sepertinya cukup menarik juga.

Advertisements

Rasa

Musik mengalun dengan playlist yang random, psychedelic awang-awang menetramkan jiwa. Ditambah lagi dengan kemunculan desiran semerbak angin membawa aroma wangi pengharum lemon. Teduh, seperti surga yang teryakini seperti itu. Tim Buckley menyaut dengan musik berlomba laiknya pacuan derap langkah kuda, bersemangat hangat yang semakin teduh. Lelap namun tidak terpejam – syahdu silir semilir, membawaku ke dalam perjalanan entah ke mana lagi?

Harlan itu Hidup

Mendengarkan Harlan adalah proses kontemplasi memaknai lebih dalam kehidupan. Kesederhanaan, kisah yang tidak dibuat-buat, mengaduk emosi. 

“Jangan keruhkan lagi suasana, dinginkan hati kompres kepala. Tak usah mengeluh pada matahari, di depan kaca kita ceria.” 

(Harlan – Dandan, 2013)

Nb: suatu saat akan saya ulas lebih mendalam. 😊

Anjangsana!

Revisi skripsi sudah saya kerjakan, nge-print berpuluh – puluh lembar lagi, membuang beberapa kertas lagi. Lalu lanjut mengumpulkan tumpukan kertas tersebut di loker dosen pembimbing saya, niat hati ingin sekalian bertemu tapi apa daya bersua pun tidak. Jam tiga sore sudah menjelang dan saya pun meringkuk di depan colokan listrik lobi kampus, masalah jamak jika punya ponsel pintar dengan keterbatasan pada baterai. Datang Dhila pacar sahabat saya yang juga baru saja mengumpulkan revisian dan ngobrol seputaran skripsi dan yudisium. Tiba – tiba ada nada dering berbunyi dari laci meja, alarm dari ponsel yang sejak tadi tiba di lobi terlihat tergeletak begitu saja namun tidak saya hiraukan. Maklum saya kira ponsel dummy, yang ternyata bukan. Akhirnya saya ambil dan mematikan alarmnya, dan melihat sekitar hanya tinggal saya dan Dhila yang sudah mau berpamitan untuk urusan pekerjaan yang ia tinggal. Sedikit bingung mendera, akhirnya saya kirim pesan pada daftar pertama sms terakhir di ponsel putih yang tertinggal tersebut. Lanjut ke depan ruang dosen lagi yang terdapat beberapa orang sedang antri menunggu dosen, saya tanya satu – persatu tidak ada yang merasa kehilangan ponsel. Beruntung di situ ada Haryo teman saya yang sedang bertengger di depan pintu ruang dosen. Saya mengatakan kepadanya bahwa barusan tadi menemukan ponsel putih. Ia pun mengecek foto – foto di dalamnya ponsel tersebut yang dari tadi tidak berani saya buka file-nya. Beranjaklah saya sejenak masuk ke ruang dosen memeriksa siapa tau dosen yang saya tunggu sudah datang, ternyata belum. Saat saya keluar Haryo sudah lenyap, orang – orang yang tadi ngantri pun tidak ada yang tau. Lumayan membuat saya panik dan mengelilingi seperempat bangunan kampus untuk mencarinya. Tidak ada!

Akhirnya sedikit menuruti insting saya menuju ke kantin Panorama di samping bangunan kampus. Ya karena kegiatan kampus sudah libur, pastilah ada anak –  anak di sana untuk sekedar ngobrol sembari minum kopi dan mengepulkan kretek. Ternyata dugaan saya benar! Muka –  muka yang tidak asing muncul juga, sedang asik di sana sekumpulan pemuda termasuk Haryo. Saya pun menemui dia, dan mendapatkan jawaban bahwa ia tau siapa pemilik ponsel putih tersebut. Sedikit menyempatkan ngobrol ngalor – ngidul dengan para teman, saya lanjut beranjak untuk menemui seseorang yang beberapa menit lalu saya kirimi pesan.

Menujulah saya ke dekat pusat kota, di sebuah kampung yang pada tahun ’80-an terkenal dengan daerah hitam. Tapi itu dulu, sekarang teramat nyaman dengan jalan masuk kampungnya yang meliuk – liuk.

Beberapa hari yang lalu saya sudah janji dengan Pak Koes, pedagang yang saya kenal di pasar sore. Kadang ia membawa kaset yang ajaib! Nah, tujuan saya untuk berburu kaset kali ini. Sampailah saya di rumahnya yang bercat putih bersih, semi bangunan Belanda jika dilihat dari pintu dan jendelanya yang berbahan jati. Dia menyalami saya dengan erat dan berterimakasih atas anjangsananya. Saya pun dipersilahkan duduk dengan nyaman, ia lalu mengeluarkan beberapa kaset. Namun di meja sudah ada kaset Metallica … And Justice for All, saya pun memilih satu – persatu beberapa kaset yang ia keluarkan. Ternyata pesanan saya belum ia dapatkan, karena negosiasi dengan kolektor pemilik kaset masih alot. Oh ya, perkenalan saya dengan Pak Koes sebenarnya sangat tidak sengaja, pada waktu itu saya sedang berburu dan di lapaknya ada empat kaset. Ia pun lantas bertanya “Mas, cari kaset pita po?”, nah saya yang sedang milih – milih kaset yang salah satunya The Who pun lalu menoleh dan langsung menjawab “nggih Dhe!” dengan nada semangat. Tiba – tiba ia mengeluarkan tas plastik merah dan mengeluarkan beberapa kaset dengan kondisi sangat mulus. Dia pun menjelaskan bahwa ini pesanan orang tapi tidak diambil, harga satuannya pun lima ribu rupiah. Saya pun memilih satu kaset Motorhead live at Brixton lisensi Metalizer, sialnya pas mau saya coba pita kaset itu putus terbakar. Kecewa pun mendera dan kaset itu tidak saya ambil, lalu saya menginfokan ke pedagang kaset langganan saya, yang dengan sigap ia ambil semua koleksi Pak Koes untuk direparasi untuk lanjut dijual lagi. Kaset Motorhead itu akhirnya dibeli teman saya dengan harga yang berubah tinggi dengan drastis.

Nah dikarenakan tau saya kecewa Pak Koes memberi tau bahwa di rumah masih punya beberapa koleksi. Namun ya itu tadi, ternyata koleksi kaset – kaset ajaib yang ia dapatkan kemarin sisanya masih belum deal. Alhasil saya pun memilih- milih kaset yang tersisa di rumahnya. Dua jam saya mencoba dan memilih kaset dengan walkman dan akhirnya tiga kaset saya ambil. Kebanyakan kasetnya yang ia keluarkan masih bagus, namun kadang isinya beda atau sudah terekam siaran radio. Hidangan nikmat kopi instan dengan nyamikan roti coklat keju pun menemani saya dalam memilih – milih koleksinya. Kemudian kami bercerita banyak hal, dari mulai kisah kampungnya yang sekarang hijau nyaman tentram, anaknya yang telah sukses bekerja di Bandung, tentang ia berdagang dahulu di berbagai pasar Klithikan (dahulu sebutan bekennya “Pasar Maling”, atau disingkat “Sarling” namun sekarang orang menyebutnya dengan Kithikan. Ini merujuk saat pedagang barang loak belum direlokasi dan menempati Jl. Mangkubumi) dan banyak saling silang tentang kisah kami berdua.

Processed with VSCOcam with t1 preset

Pak Koes sedang menyervis saklar listrik

Petang pun menjelang, saya pun pamit undur diri. Pak Koes pun juga akan berangkat jualan di pasar sore, namun sebelum saya pamit ia pun menawarkan kaset lagi untuk saya bawa pulang. “Dah dik mau mbawa kaset apa?”, saya pun mengambil tiga kaset: Duran – Duran, Ost. Pretty Woman, dan Frank Sinatra yang harus sedikit diservis. Saya pun bertanya berapa harga untuk keenam kaset tersebut, ia pun hanya memberi harga lima belas ribu. Berarti ia hanya memberi harga kaset pilihan pertama saya, sisanya sebagai bonus. Saya pun sangat berterimakasih dengan keramah – tamahan, suguhan yang nikmat, dan percakapan yang hangat. Ia pun mengulurkan tangan kembali, jabat tangannya masih sama, erat dan hangat. Terimakasih Pak Koes!

Processed with VSCOcam

Kaset yang saya ambil

nb: Terkadang hasil berburu koleksian tidak seperti yang saya harapkan, semisal harus mendapatkan kaset yang langka, lisensi lokal atau impor, atau bahkan rilisan yang memiliki harga mahal di pasaran. Celah – celah dari semua itu yang membuat saya akhirnya mendengarkan berbagai rilisan yang saya tidak tau, atau yang tadinya tidak ingin saya ketahui. Tapi yang terpenting seperti kata Pak Koes tadi “Anjangsana”  serta mendapatkan kenalan, kehangatan, keramah – tamahan, dan berbagai kisah lainnya.

Susu Ultra Coklat (Kenangan Kecil yang Lekat)

Sekitar pukul sepuluh saat saya sudah hampir usai memandikan Tengo, tiba – tiba Bapak memanggil nyaring nama saya dari lantai bawah. Sebuah kabar haru membahana tatkala ia menyampaikannya, pada saat itu saya menerimanya dengan setengah tidak percaya dan masih melanjutkan kegiatan bersama Tengo. Baru ketika Ibu saya sampai rumah sehabis belanja dan mendengarkan kabar tersebut, tangisan deras dengan nada kalut melandanya. Ya, Bapak mendapatkan kabar bahwa kakak Ibu meninggal. Ibu saya adalah anak nomor tiga dari tujuh bersaudara, sedangkan Pakde saya anak pertama. Pakde saya lahir pada 10 Agustus 1961 dengan nama lengkap Martinus Joko Prayitno, namun ia lebih sering dipanggil Agus atau hampir tiap orang yang saya kenal memanggilnya Pakde Gembil, termasuk saya tentunya. Nama sapaan itu didapatnya karena pada waktu mudanya doyan makan dan pipinya gembil.

Terakhir saya bertemu Pakde Mbil pada saat ia balik ke Jogja, dan tinggal di rumah saya sekitar dua tahun yang lalu. Pastinya ia ingin bertemu Prida, anak perempuannya yang tinggal bersama neneknya di Muntilan. Tubuhnya yang dahulu segar dan gemuk saat itu sudah tak terlihat, ia terlihat kurus dan terdapat beberapa bekas luka di kakinya. Pada saat itu ia sudah mengidap diabetes, penyakit turunan dari simbah putri saya. Bahkan karena penyakit tersebut, simbah putri saya hampir diamputasi kakinya, namun ia menolak dengan keras. Simbah putri meninggal sewaktu saya kelas 5 SD setelah sekian tahun mengidap diabetes.
Perjumpaan singkat dan obrolan yang kurang begitu mendalam akhirnya terpisahkan jua. Ia juga harus balik ke Nabire dengan menunggangi kapal untuk kembali bekerja serta bertemu Istri dan anak keduanya, anak lelaki yang hingga saat ini saya belum bertemu.

Sore hari setelah Ibu dan keluarga besarnya kembali dari Muntilan untuk sembahyangan, akhirnya kedua belah pihak keluarga menerima keputusan dari istri Pakde Mbil di Nabire. Pakde akan dikebumikan di sana pada hari Selasa, di tanah Nabire yang dijadikan akhirnya kisahnya. Akhir kisah yang meninggalkan Prida, Bude Tyas, si jagoan kecil, keluarga besar kami, dan kenangan saya dengannya yang selalu saya ingat. Saya meningingat Pakde saya yang selalu sumeh, murah senyum pada siapa pun. Pakde yang kadang mengganti kata Aku – Kamu, dengan saya dan situ. Pakde yang mencintai TVRI dan siaran lokal mBangun Desa, saat ia ditanya kenapa sangat mencintai TVRI jawabannya “Kasihan, ga ada yang nonton.” Pakde saya yang selalu menghabiskan makanan dari keponakannya jika sudah penuh sesak, ia pun tidak pernah mengeluh kekenyangan, seperti saat waktu saya kecil, kami sekeluarga besar makan nasi goreng babi di tempat Pak Tedjo pasar Beringharjo, “De, dah kenyang banget ga abis ini, entekke yo De? “Jawabnya selalu “Yoh, yoh.” dengan muka lucunya. Pakde saya yang selalu mengendong saya di pundaknya saat akan menuju lapangan untuk menyaksikan sepakbola, dan membelikan sekotak susu Ultra Coklat yang sangat nikmat. Selamat jalan Pakde Mbil…Tuhan sertamu.

pakde mbilDewo (anak Mbak Lies yang merawat Simbah Putri), Saya, Pakde Agus
Foto diambil saat ulang tahun saya yang ke enam di Kyai Langgeng, Magelang.

 

#listening Radiohead – No Surprises

Generasiku

Inilah generasiku
Generasi yang takut akan sinar matahari
Agar terlihat putih seperti orang mati

Inilah generasiku
Generasi yang membenci tv
Tapi sangat menyanjung MTV

Inilah generasiku
Generasi yang berdiam diri
Tunduk menyembah persegi

Inilah generasiku
Generasi berkelamin ganda
Suka berkebalikan peran dengan bangga

Inilah generasiku
Generasi penderas uang orang tua
Hingga batas waktu telat dewasa

Selamat datang orang baru
Salam manis buat para pendahulu
Inilah generasiku!

Lepas

Awalan bagi akhiran
Akhiran bagi awalan
Inilah sebuah perpisahan,
Aku tidak mau terantuk pada lingkaran setan!